Kunci Mendapatkan Hidayah


بِسمِ اللَّهِ الرَّحمٰنِ الرَّحيمِ

ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padana petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS:AL-BAQARAH:2)

Al Hasan Al Bashri Berkata :”Bahwa Allah SWT menurunkan Kitab-Kitab sucinya yaitu 104 dan inti sarinya hanya ada pada 4 Kitab suci yaitu Zabur, Taurat, Injil, Al-Qur’an. Serta inti sari dari ke-empatnya adalah Kitab Al-Qur’an serta inti sari dari Al-Qur’an adalah sebuah surat Al-Fatihah serta inti sari dari Al Fatihah adalah sebuah ayat yaitu “Kepada Engkau-lah kami Menyembah dan Kepada Engkau-lah Kami Memohon Pertolongan


Ingat Pada dasarnya semua Nabi Berdakwah kepada satu hal yaitu Beribadah Kepada Allah Tanpa Menyekutukan dengan sesuatu apapun adapun cara beribadah antara nabi satu dengan yang lainya adalah berbeda berdasarkan syar’at yang Allah SWT terapkan dan juga kondisi mereka saling berbeda, bukankah Nabi Nuh Berdakwah berpuluh tahun namun yang didapati pengikutnya tidak lain hanyalah beberapa puluh saja lain halnya dengan Rosulullah SAW berdakwah secara rahasia maupun terang terangan pengikutnya berkembang sehingga tatkala Rosulullah SAW berhijarah ke Yastrib (Madinah) pengikut beliau tidak lain ratusan yang berhijrah.

Mengenai Makna “Kepada Engkau-lah kami Menyembah & Kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan” Imam Ibnul Qoyyim Al Jauzi Pernah Membedah Maknanya hingga beliau selesaikan 3 Jilid beserta pembahasan Lihat pada kitab “Madarijus salikin”.
Dalam ayat tersebut Allah SWT mendahulukan Na’budu dibandingkan Nasta’in karena Ibadah kepada Allah adalah hal yang lebih utama tidaklah makhluk dibumi ini Allah SWT menciptakan melainkan untuk beribadah kepada Allah dengan semurni murninya.

Ibadah mempunyai Makna adalah seorang hamba merasa hina serta tunduk dengan diliputi rasa cinta & takut dihadapan Allah. Maksud dari Hina adalah ketika seorang mengerjakan sesuatu maka dia mulai dengan Bismillahirrahmanirrahim maksud dari huruf Bi adalah isti’anah (permohonan) jadi pada dasarnya seorang hamba adalah hina dihadapan Robul’alamin serta disuatu keadaan pastilah dia bergantung kepoda Allah seharusnya seorang muslim seperti ini makna dari muslim adalah seorang yang bertawkal, bersehran atas ketetapan yang menimpanya di hari ini maupun di hari esok. Adapun orang yang tidak mengikutsertakan sebagai contoh ketika orang ini makan namun tidak membaca doa seakan akan dia telah sombong dengan nerkata “Guasah baca doa juga ini makanan juga udah berkah bisa mengenyangkan perut” Naudzubillah summa nadzubillah ini adalah sesuatu yang sombong dimana sifat sombong adalah kepunyaan Allah yang menciptakan Langit dan Bumi secara mudah.

Pintu Hidayah Allah
 Ingat seorang muslim seharusnya selalu merasa diawasi Al-Alim ketika seorang terus merasa diawasi maka dirinya akan mudah mendapatkan Hidayah Allah.
 Janganlah merasa puas terhadap apa yang kita lakukan berupa Sunnah Rosulullah maka diri kita akan mendapatkan hidayahnya dikarenakan rasa ketidakpuasan sehingga kita mengerjakan sunnah yang satu dilain sisi kita mengerjakan sunnah yang lain secara berbarengan esoknya mengerjakan sunnah yang lebih banyak dari hari sebelumnya.
 Jadilah hamba yang merasa diri ini hina tatkala demikian maka seakan akan kita terus melakukan kebaikan karena dirikita merasa penuh dosa dan sungguh setiap kebaikan akan menutup keburukan sebagiamana dalam sebuah Hadist Yang Shohih.

Ketika seseorang merasa bodo dihadapan Al-Alim, merasa lemah dihadapan Al-Qowiy, merasa kecil dihadapan Al Jabbar serta merasa hina dihadapannya maka pada saat itu orang yang demikian akan mendapatkan hiudayah serta kemuliaan disisnya. Banub jetuja seirabf nerasa pintar dihadapan Al Alim serta merasa besar dihadapan Al Kabir maupun merasa diri kaya dihadapan Al Ghoniy maka Hidayah Allah akan sulit didapatkan. Tidakah kita meng-intropeksi diri ketika kita merasa Pintar bisa saja Allah SWT akan menghilangkan kepintaran kita maka apakah reaksi kita ? Menyesalkah? Dan juga ketika kebesaran kita berupa pangkat Allah cabut maka menyesalkah kita ? Allah berbuat menurut kehendaknya tiada seorang pun yang dapat menghalangi Allah dalam bertindak.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak menganggap rendah nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.” (Muttafaq ‘Alaihi).

إِذَانَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullaah menjelaskan hadits di atas, “Ini merupakan hadits yang mengumpulkan berbagai kebaikan. Karena bila seorang hamba melihat orang yang di atasnya dalam kebaikan, ia menuntut jiwanya untuk ikut bergabung dengan orang yang dilihatnya tersebut. Ia pun mengecilkan keadaannya ketika itu, sehingga ia bersungguh-sungguh untuk menambah kebaikan. Bila dalam perkara dunianya ia melihat kepada orang yang di bawahnya, akan tampak baginya nikmat Allah Ta’ala yang terlimpah padanya, maka mendorong jiwanya bersyukur. Inilah makna ucapan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam di atas. Bila seseorang tidak melakukan anjuran Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam tersebut maka keadaannya jadi sebaliknya. Ia terkagum-kagum dengan amalannya sehingga ia malas menambah kebaikan. Ia membelalakkan kedua matanya pada dunia dan berambisi untuk menambahnya. Nikmat Allah Ta’ala yang diperolehnya pun diremehkan dan tidak ditunaikan haknya.” (Ikmaalul Mu’lim bi Fawaa’id Muslim, 8/515).

Tidaklah kalian membaca cerita tentang Fir’aun yang merasa dirinya sebagai tuhan yang paling tinggi dilain sisi Fir’aun ketika Allah SWT tenggelamkan maka dia mengucap :”Aku Tunduk dan beriman kepada Allah Rob kami bani isroil dan saya berserah diri kepadanya”. Seorang akan senantiasa durhaka kepada Allah. Adapun ketika seorang merasa sombong serta selalu bermaksiat kepadaNya seakan akan dia berkata:”aku daoat menahan AdzabNya” sebagaimana kesombongan Iblis ketika Allah SWT memerintahkan Bersujud namun Iblis pun menolak perintah Allah dengan kesombongannya seakan akan dia mengatakan:”Aku Diciptakan dari Api sedangkan Adam diciptakan dari Tanah seharusnya adamlah yang sujud kepadaku”

Ingat Akhi Wa Ukhti
”Sebagian Orang membantah kenapa Allah memerintahkan demikian walaupun tidak sejalan dengan akal kita namun Ingat Allah SWT memberikan Ilmu kepada manusia adalah sedikit maka jawaban kita seharusnya adalah “Kami dengar dan Kami Ta’at””

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑