RIBA DALAM LAYANAN ONLINE


Ust. DR. ERWANDI TIRMIDZI
-RIBA DALAM LAYANAN ONLINE-
Minggu, 26 Maret 2017
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du

Ikhwatal Iman, tentu saja kita telah mengetahui Riba dalam Islam seperti apa dan kita berusaha untuk menjauhkan hal ini. Bukankah telah datang Layanan Online dalam E-COMMERCE atau Jual Beli Online. Tentu sajah dalam hal ini mempunyai berbagai perbedaan yang signifikan.

  1. Pada Transaksi Online kedua belah pihak antar pembeli dan penjual bukan dalam satu majelis, sedangkan transaksi langsung itu dilakukan dalam satu majelis.
  2. Kemudian dalam transaksi online tidak diketahui apakah dia baligh atau dewasa yang membelinya sedangkan dalam islam syaratnya adalah sudah dewasa untuk syarat sahnya bertransaksi
  3. Adanya Ijab Qobul antara dua pihak yaitu penjual dan pembeli
  4. Adanya barang

Persyaratan TUNAI adalah yang sejenis (UANG DENGAN UANG), jika selainya diperbolehkan tidak TUNAI. Jika yang membeli anak kecil maka mengakibatkan TRANSAKSI tidak sah sehingga HARTA HASIL TRANSAKSI TERSEBUT HARAM,

Dan Termasuk RIBA Adalah ketika Costumer membeli barang kepada PENJUAL entah (itu baju atau product lain) sedangkan si PENJUAL mengambil barang dari SUPPLIER. Setelah duit dari KONSUMEN Masuk ke PENJUAL lalu ANTARA PENJUAL DAN SUPPLIER BAGI DUA DUIT HASIL PENJUALAN TERSEBUT sedangkan BARANG BELUM KEKIRIM KE KONSUMEN Maka dalam HAL INI TERMASUK RIBA PADA SAAT ITU TERJADI TUKA MENUKAR DUIT NAMUN BARANG PESANAN KONSUMEN BELUM SAMPAI KE TANGAN KONSUMEN.

(UST. DR ERWANDI TIRMIDZI)

 

_______________________________________________

TAUTAN

Saldo GO-PAY untuk saat ini tidak bisa diuangkan.

Sumber: http://www.go-pay.co.id/faq/id

Melihat ketentuan yang diberikan pihak gojek, akad yang terjadi bukan utang piutang, tapi pembayaran akad ijarah yang disegerakan.

Berdasarkan ketentuan di atas, ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa pembayaraan go pay bukan utang piutang,

[1] Go-pay merupakan dompet untuk  membayar semua transaksi di dalam aplikasi GO-JEK

[2] Go-pay tidak bisa diuangkan atau dikembalikan. Artinya, pihak gojek tidak menerima pembatalan akad, bagi yang sudah beli voucher go pay.

Ini berbeda dengan akad utang piutang. Dalam akad utang piutang, uang yang kita serahkan kepada penerima utang, harus dikembalikan, dan selama uang itu masih ada, tidak akan hangus sampai dilunasi.

Dalam Fiqh Sunah disebutkan definisi utang (Qardh),

القرض هو المال الذي يعطيه المقرض للمقترض ليرد مثله إليه عند قدرته عليه

Utang adalah harta yang diberikan oleh orang yang menghutangi kepada orang yang menerima utang, untuk dikembalikan dengan yang semisal, ketika dia mampu membayar. (Fiqh Sunah, Sayid Sabiq, 3/144).

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi ancaman bagi orang yang berutang, sementara dia tidak mau mengembalikannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلاً قُتِلَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِىَ ثُمَّ قُتِلَ ثُمَّ أُحْيِىَ ثُمَّ قُتِلَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ

Demi Allah, yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya ada seseorang yang terbunuh di jalan Allah, lalu dia dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi di jalan Allah, lalu dia dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah), sementara dia masih memiliki utang, maka dia tidak masuk surga, sampai utangnya dilunasi.’” (HR. Nasa’i 4701 dan Ahmad 22493)

Sebagian ulama memahami bahwa hadis di atas berlaku untuk orang yang berutang dengan niat tidak mau melunasinya.

Ash-Shan’ani menyebutkan salah satu pendapat tentang hadis di atas,

ويحتمل أن ذلك فيمن استدان ولم ينو الوفاء

“Ada yang memahami bahwa ini berlaku bagi orang yang utang namun dia tidak berniat untuk melunasinya. (Subulus Salam, 3/51)

Selanjutnya kita akan melihat ketentuan ijarah

Pada prinsipnya, yang ditawarkan gojek adalah jual beli jasa transportasi. Hanya saja, dikemas dengan lebih up to date, memaksimalkan pemanfaatan IT, dan kebutuhan pelanggan. Tidak ada beda dengan media transportasi lainnya.

Karena itu, objek transaksi dalam akad ijarah adalah jasa layanan transportasi.

Bolehkah dalam akad ijarah, uang dibayarkan lebih dulu sebelum jasa diberikan?

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

وما دامت الإجارة عقد معاوضة فيجوز للمؤجّر استيفاء الأجر قبل انتفاع المستأجر، … كما يجوز للبائع استيفاء الثّمن قبل تسليم المبيع، وإذا عجّلت الأجرة تملّكها المؤجّر اتّفاقاً دون انتظار لاستيفاء المنفعة

Selama ijarah berupa akad muawadhah (berbayar) maka boleh bagi penyedia jasa meminta bayaran (upah) sebelum memberikan layanan kepada pelanggan… sebagaimana penjual boleh meminta uang bayaran (barang yang dijual) sebelum barangnya diserahkan. Jika upah sudah diserahkan maka penyedia jasa berhak untuk memilikinya sesuai kesepakatan, tanpa harus menunggu layanannya diberikan. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 1/253).

Ini seperti akad salam. Transaksi uang dibayar tunai, barang menyusul. Hanya saja, objek transaksi akad salam adalah barang. Konsumen beli barang, uangnya dibayar tunai di depan, namun barang datang satu atau dua bulan kemudian.

Masyarakat kita banyak melakukan transaksi ini, seperti e-Toll atau e-money untuk pembayaran beberapa layanan yang disediakan oleh penyelenggara aplikasi. Akadnya adalah jual beli, dengan uang dibayarkan di depan, sementara manfaat/layanan baru didapatkan menyusul sekian hari atau sekian waktu kemudian.

Bolehkah ada diskon?

Kita lakukan perbandingan dengan akad salam.

Diantara keuntungan konsumen ketika mengadakan akad salam adalah konsumen mendapatkan barang dengan harga murah. Dan penjual mendapat modal untuk membeli barang dagangan lebih cepat.

Ibnu Qudamah keterangan ulama akan bolehnya salam

قال ابن المنذر : أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم على أن المسلم جائز ولأن المثمن في البيع أحد عوضي العقد فجاز أن يثبت في الذمة كالثمن

Ibnul Mundzir mengatakan, ‘Para ulama yang saya kenal sepakat bahwa akad salam hukumnya boleh.’ Karena barang adalah salah satu objek transaksi, sehingga boleh ditangguhkan sebagaimana pembayaran.

Lalu beliau menyebutkan hikmah dibolehkannya Salam,

ولأن الناس حاجة إليه لأن أرباب الزروع والثمار والتجارات يحتاجون إلى النفقة على أنفسهم وليها لتكمل وقد تعوزهم النفقة فجوز لهم السلم ليرتفقوا ويرتفق المسلم بالاسترخاص

Manusia sangat membutuhkan akad ini, karena pemilik tanaman atau buah-buahan atau barang dagangan butuh modal untuk dirinya, sementara mereka kekurangan modal itu. Sehingga boleh melakukan akad salam, agar mereka bisa terbantu, dan konsumen mendapat manfaat dengan adanya diskon. (Al-Mughni, 4/338).

Karena secara prinsip, pemilik barang berhak untuk menentukan harga barangnya, selama harganya jelas. Penjual berhak memberikan diskon, bagi konsumen yang membeli dengan pembayaran tunai di muka sebelum barang diserahkan.

Bagi penjual, dia mendapat modal lebih cepat, sementara pembeli mendapat barang dengan harga murah.

Sebagaimana ini berlaku pada barang, ini juga berlaku untuk jasa. Sehingga boleh saja bagi konsumen yang memiliki credit go pay mendapatkan diskon dari pihak penyedia aplikasi…

______

 

SESI TANYA JAWAB

Ada banyak kegiatan yang tidak bisa dilakukan manusia sendirian. Karena itu dia butuh tenaga orang lain untuk membantunya. Di situlah syariat memberikan kemudahan dengan adanya akad wakalah (mewakilkan).

Hanya saja, orang yang melakukan tugas yang kita inginkan terkadang harus dibayar. Dalam hal ini, syariat memboleh wakalah bil ujrah (menyuruh orang lain dengan bayaran tertentu).

Diantara dalil yang menunjukkan bolehkah akad wakalah bil ujrah adalah,

[1] Firman Allah ta’ala yang mengisahkan ashabul kahfi yang tertidur dalam suatu gua selama 300 tahun lebih. Pada saat terbangun mereka mewakilkan kepada salah seorang diantara mereka untuk pergi ke kota membelikan makanan. Mereka mengatakan,

فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ

Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemahlembut”. (QS. al-Kahfi: 19).

Ashhabul kahfi yang berjumlah 7 orang mewakilkan kepada salah satu diantara mereka untuk membeli makanan ke kota. Ini menunjukkan bolehnya mewakilkan kepada orang lain untuk membelikan makanan. sebagaimana akad wakalah dibolehkan, maka dibolehkan pula mengambil upah dari transaksi tersebut sebagai imbalan atas jasa yang halal dari orang yang menerima perwakilan.

[2] Diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan uang 1 dinar kepada Urwah al-Bariqi radhiyallahu anhu agar dibelikan seekor kambing untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Urwah segera ke pasar dan mendatangi para pedagang kambing. Dengan uang 1 dinar, Urwah berhasil membawa 2  ekor kambing. Dalam perjalanan menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seseorang yang menawar seekor kambing yang dibawa Urwah seharga 1 dinar, maka diapun menjualnya. Sampai di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Urwah memberikan 1 dinar dan seekor kambing. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merestui apa yang dilakukan Urwah, dengan beliau doakan,

اللهُمَّ بَارِكْ لَهُ فِي صَفْقَةِ يَمِينِهِ

Ya Allah, berkahi perdagangan yang dilakukan Urwah. (HR. Ahmad 19362 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Dalam dua dalil di atas memang tidak disebutkan upah untuk yang dititipi. Meskipun andai keduanya meminta upah di awal, diperbolehkan. Dalil di atas juga menyebutkan bahwa orang yang dititipi telah diberi uang oleh orang yang titip. Karena hakekat dari wakalah bil ujrah adalah jual beli jasa dan layanan. Sementara hukum asal jual beli adalah mubah.

Go Food & Go Mart

Dalam kasus go food atau go mart, pihak pelanggan memesan makanan atau barang. Dan umumnya driver go food tidak mendatangi pelanggan, tapi langsung ke rumah makan atau tempat belanja untuk membeli pesanan yang diinginkan pelanggan. Ketika driver belum diberi uang oleh pelanggan, dia harus memberi talangan. Dan kita memahami, talangan itu adalah utang.

Setelah makanan dan barang sampai di pelanggan, maka pelanggan akan membayar 2 item,

[1] Makanan/barang yang dipesan, sesuai nilai yang tertera dalam struk/nota. Dalam hal ini, driver sama sekali tidak melebihkan harga makanan maupun barang.

[2] Jasa kirim makanan. Di sini pihak driver mendapatkan keuntungan.

Berdasarkan keterangan di atas, ada 2 akad yang dilakukan antara pelanggan dengan driver:

[1] Akad jual beli jasa wakalah untuk beli makanan/barang.

Inilah akad yang menjadi tujuan utama kedua belah pihak. Tujuan utama pelanggan adalah mendapat layanan membelikan makanan/barang yang diinginkan. Sebagaimana pula yang menjadi tujuan utama driver, mendapat upah membelikan makanan/barang yang dipesan.

[2] Akad utang (talangan).

Bisa kita sebut akad utang ini hanyalah efek samping dari akad pertama. Keduanya sama sekali tidak memiliki maksud untuk itu. Hanya saja, untuk alasan praktis, pihak driver memberikan talangan untuk penyediaan makanan atau barang.

Kita bisa memahami itu, karena andai si driver ada di sebelah kita, kemudian kita apply go food atau go mart, tentu pihak driver akan meminta kita uang untuk pembelian makanan yang kita pesan. Dan kita juga akan tetap membayar biaya antar makanan.

Tinjauan Hadis Larangan Menggabungkan Utang dengan Jual Beli.

Ada sebuah hadis dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ سَلَفٍ وَبَيْعٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menggabungkan antara akad jual-beli dan akad utang. (HR. Ahmad 6918 & Tirmizi 1278.).

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ

Tidak halal, utang digabung dengan jual beli. (HR. Ahmad 6671, Abu Daud 3506 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Dalam catatan yang diberikan oleh Turmudzi di bawah hadis ini, beliau menyebutkan keterangan Imam Ahmad,

قال إسحاق بن منصور: قلت لأحمد: ما معنى نهى عن سلف وبيع؟ قال: أن يكون يقرضه قرضاً ثم يبايعه بيعاً يزداد عليه. ويحتمل أن يكون يسلف إليه في شيء فيقول: إن لم يتهيأ عندك فهو بيع عليك

Ishaq bin Manshur pernah bertanya kepada Imam Ahmad,

“Apa makna laragan beliau, menggabungkan utang dengan jual beli?”

Jawab Imam Ahmad,

“Bentuknya, si A memberi utang kepada si B, kemudian mereka melakukan transaksi jual beli sebagai syarat tambahannya.” (Sunan Turmudzi, 5/140)

Dan akad ijarah, diantaranya wakalah bil ujrah, termasuk jual beli. Karena hakekat akad sewa adalah jual beli jasa. Dalam Ma’ayir as-Syar’iyah yang diterbitkan oleh AAOIFI, pada pasal (19) tentang Qardh, ayat (7) dinyatakan,

لا يجوز اشتراط عقد البيع أو الإجارة أو نحوهما من عقود المعوضات في عقد القرض

“Lembaga keuangan syariah tidak dibolehkan mensyaratkan akad ba’i (jual-beli), akad ijarah (sewa), atau akad mu’awadhah lainnya yang digabung dengan akad qardh. Karena dalam jual/sewa, biasanya, pihak debitur sering menerima harga di atas harga pasar dan ini merupakan sarana untuk terjadinya riba (pinjaman yang mendatangkan keuntungan bagi kreditur)”. (al-Ma’ayir asy-Syari’iyyah, hal 270)

Mengapa Dilarang Menggabungkan Jual Beli dengan Utang?

Dari keterangan Imam Ahmad, adanya larangan menggabungkan utang dengan jual beli, tujuan besarnya adalah menutup celah riba. Dalam rangka saduud dzari’ah (menutup peluang terjadinya maksiat). Karena saat mungkin pihak yang memberi utang, mendapat manfaat dari transaksi jual beli yang dilakukan. Dan setiap utang yang menghasilkan manfaat adalah riba.

Ibnu Qudamah menjelaskan alasan larangan menggabungkan utang dengan jual beli,

إذا اشترط القرض زاد في الثمن لأجله فتصير الزيادة في الثمن عوضا عن القرض وربـحا له وذلك ربا محرم

“Jika jual beli disyaratkan dengan utang, maka harga bisa naik disebabkan utang. Sehingga tambahan harga ini menjadi ganti dan keuntungan atas utang yang diberikan. Dan itu riba yang haram.” (al-Mughni, 4/314).

Sehingga ketika gabungan akad utang dan jual beli ini dilakukan, utang menjadi akad utama, sementara jual beli menjadi syarat tambahan, sebagai celah bagi pemberi utang untuk mendapat keuntungan.

Akad yang Mengikuti tidak Diperhitungkan

Terdapat kaidah Fiqh yang disampaikan al-Kurkhi,

الأصل أنه قد يثبت الشيء تبعاً وحكماً وإن كان يبطل قصداً

Hukum asalnya, terkadang ada sesuatu diboleh-kan karena mengikuti, meskipun batal jika jadi tujuan utama. (al-Wajiz fi Idhah Qawaid Fiqh, hlm. 340).

Dalam redaksi yang lain dinyatakan,

يثبت تبعاً ما لا يثبت استقلالاً

Jika mengikuti boleh, jika berdiri sendiri tidak boleh. (al-Qawaid al-Fiqhiyah ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, 1/468).

Jika kita perhatikan dalam akad go food atau go mart, pada dasarnya utang yang dilakukan pelanggan, sama sekali bukan tujuan utama akad. Saya sebut, itu efek samping dari akad antar pesanan makanan/barang. Sehingga tidak diperhitungkan. Sebanarnya pelanggan juga tidak ingin berutang, karena dia mampu bayar penuh. Sementara driver juga tidak membuka penyediaan utang, karena bagi dia, talangan resikonya lebih besar.  Sementara niat mempengaruhi kondisi akad. Ada kaidah menyatakan,
القصود في العقود معتبرة
“Niat dalam akad itu ternilai”

Sedangkan larangan menggabungkan utang dengan jual beli, akad yang dominan adalah utangnya. Andai tidak ada utang, mereka tidak akan jual beli. Sementara dalam kasus go food – go mart, yang terjadi, akad utang hanya nebeng, imbas, efek samping, yang sebenarnya tidak diharapkan ada oleh kedua belah pihak.

Karena itu, menurut pribadi saya, go food atau go mart dibolehkan…

______

Pemasaran berjenjang (bahasa Inggris: multi level marketing atau MLM) adalah sistem penjualan yang memanfaatkan konsumen sebagai tenaga penyalur secara langsung. Harga barang yang ditawarkan di tingkat konsumen adalah harga produksi ditambah komisi yang menjadi hak konsumen karena secara tidak langsung telah membantu kelancaran distribusi.

Ada beberapa fatwa ulama yang penulis sarikan yang menjelaskan mengenai hukum MLM yang sebenarnya. Ada sebagian ulama yang memberikan penjelasan syarat-syarat dan gambaran bagaimana MLM bisa masuk kategori halal.

Pertama: Fatwa Al Lajnah Ad Daimah (Komisi Fatwa di Kerajaan Saudi Arabia) tentang MLM yang Terlarang

Dalam fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 22935 tertanggal 14/3/1425 H menerangkan mengenai MLM yang terlarang terhimpun berbagai permasalahan berikut:

1. Di dalamnya terdapat bentuk riba fadhl dan riba nasi-ah. Anggota diperintahkan membayar sejumlah uang yang jumlahnya sedikit lantas mengharapkan timbal balik lebih besar, ini berarti menukar sejumlah uang dengan uang yang berlebih. Ini jelas adalah bentuk riba yang diharamkan berdasarkan nash dan ijma’. Karena sebenarnya yang terjadi adalah tukar menukar uang. Dan bukan maksud sebenarnya adalah untuk menjadi anggota (seperti dalam syarikat) sehingga tidak berpengaruh dalam hukum.

2. Di dalamnya terdapat bentuk ghoror (spekulasi tinggi atau untung-untungan) yang diharamkan syari’at. Karena anggota tidak mengetahui apakah ia bisa menarik anggota yang lain ataukah tidak. Pemasaran berjenjang atau sistem piramida jika berlangsung, suatu saat akan mencapai titik akhir. Anggota baru tidaklah mengetahui apakah ketika menjadi bagian dari sistem, ia berada di level tertinggi sehingga bisa mendapat untung besar atau ia berada di level terendah sehingga bisa rugi besar. Kenyataan yang ada, anggota sistem MLM kebanyakan merugi kecuali sedikit saja yang berada di level atas sehingga beruntung besar. Jadi umumnya, sistem ini mendatangkan kerugian dan inilah hakekat ghoror. Ghoror adalah ada kemungkinan rugi besar atau untung besar. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari jual beli ghoror sebagaimana disebutkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya.

3. Di dalam MLM terdapat bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Karena yang sebenarnya untung adalah perusahaan (syarikat) dan anggota telah ditentukan untuk mengelabui yang lain. Ini jelas diharamkan karena Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku saling ridho di antara kamu” (QS. An Nisa’: 29).

4. Di dalam muamalah ini terdapat penipuan dan pengelabuan terhadap manusia. Karena orang-orang mengira bahwa dengan menjadi anggota nantinya mereka akan mendapatkan untung yang besar. Padahal sebenarnya hal itu tidak tercapai. Ini adalah bentuk penipuan yang diharamkan dalam syari’at. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى

Barangsiapa menipu maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Muslim dalam shahihnya).

Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang” (Muttafaqun ‘alaih).

[Beda Makelar dan MLM]

Adapun pendapat bahwa transaksi ini tergolong samsaroh (makelar), maka itu tidak benar. Karena samsaroh adalah transaksi di mana pihak pertama mendapatkan imbalan atas usahanya mempertemukan barang (dengan pembelinya). Adapun MLM, anggotanya-lah yang mengeluarkan biaya untuk memasarkan produk tersebut. Hakekat sebenarnya dari samsaroh adalah memasarkan produk. Berbeda dengan maksud MLM yang ingin mencari komisi. Karena itu, orang yang bergabung dalam MLM memasarkan kepada orang yang akan memasarkan dan seterusnya. Berbeda dengan samsaroh, di mana pihak perantara benar-benar memasarkan kepada calon pembeli barang. Perbedaan di antara dua transaksi ini adalah jelas.

[Beda Hibah dan Komisi MLM]

Adapun pendapat bahwa komisi-komisi tersebut masuk dalam kategori hibah (hadiah), maka ini tidak benar. Andaikata pendapat itu diterima, maka tidak semua bentuk hibah itu boleh menurut syari’at. Sebagaimana hibah yang terkait dengan suatu pinjaman utang termasuk dalam riba. Karena itu, Abdullah bin Salam berkata kepada Abu Burdah radhiyallahu ‘anhuma,

إِنَّكَ بِأَرْضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ ، إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ أَوْ حِمْلَ قَتٍّ ، فَلاَ تَأْخُذْهُ ، فَإِنَّهُ رِبًا

Sesungguhnya engkau berada di suatu tempat yang riba begitu merajalela. Jika engkau memiliki hak pada seseorang kemudian dia menghadiahkan kepadamu sepikul jerami, sepikul gandum atau sepikul tumbuhan, maka hadiah itu adalah riba.” (HR. Bukhari dalam kitab shahihnya). Dan hukum hibah dilihat dari sebab terwujudnya hibah tersebut. Karena itu beliau ‘alaihish shalatu wa sallam bersabda kepada pekerjanya yang datang lalu berkata, “Ini untuk kalian, dan ini dihadiahkan kepada saya.” Beliau ‘alaihish shalatu wa sallam bersabda, “Bagaimana seandainya jika engkau tetap duduk di rumah ayahmu atau ibumu, lalu engkau menunggu apakah engkau mendapatkan hadiah (uang tips) atau tidak?” (Muttafaqun ‘Alaih)

Komisi MLM sebenarnya hanyalah diperoleh karena bergabung dalam sistem pemasaran MLM. Apapun namanya, baik itu hadiah, hibah atau selainnya, maka hal tersebut sama sekali tidak mengubah hakikat dan hukumnya.

[Fatwa selengkapnya silakan lihat di sini]

Kedua: Syaikh Dr. ‘Abdullah bin Nashir As Sulmi menerangkan mengenai syarat MLM yang halal

Syaikh ‘Abdullah As Sulmi memberikan tiga syarat MLM bisa dikatakan halal:

Pertama, orang yang ingin memasarkan produk tidak diharuskan untuk membeli produk tersebut.

Kedua, harga produk yang dipasarkan dengan sistem MLM tidak boleh lebih mahal dari pada harga wajar untuk produk sejenis. Hanya ada dua pilihan harga semisal dengan harga produk sejenis atau malah lebih murah.

Ketiga, orang yang ingin memasarkan produk tersebut tidak disyaratkan harus membayar sejumlah uang tertentu untuk menjadi anggota.

Jika tiga syarat ini bisa dipenuhi maka sistem MLM yang diterapkan adalah sistem yang tidak melanggar syariat.

Namun bisa dipastikan bahwa tiga syarat ini tidak mungkin bisa direalisasikan oleh perusahaan yang menggunakan MLM sebagai sistem marketingnya. Jika demikian maka sistem marketing ini terlarang karena merupakan upaya untuk memakan harta orang lain dengan cara cara yang tidak bisa dibenarkan.

[Fatwa Syaikh ‘Abdullah As Sulmi di Youtube]

Ketiga: Penjelasan Syaikh Sholih Al Munajjid tentang MLM dengan keanggotaan gratis dan tidak dipersyaratkan membeli produknya

Syaikh Sholih Al Munajjid pernah menerangkan mengenai sistem pemasaran berjenjang dengan keanggotaan gratis dan tidak dipersyaratkan membeli produknya. Beliau menerangkan bahwa sistem semacam ini termasuk samsaroh (makelar: memasarkan produk orang lain) yang mubah karena berbeda dengan MLM berbentuk piramida atau berjenjang dilihat dari beberapa alasan:

  1. Orang yang ingin memasarkan produk tidak disyaratkan membeli barang tersebut atau menyerahkan sejumlah uang untuk menjadi anggota.
  2. Barang yang dijual benar-benar dijual karena orang yang membeli itu tertarik, bukan karena ia ingin menjadi anggota MLM.
  3. Orang yang menawarkan produk mendapatkan upah atau bonus tanpa diberikan syarat yang menghalangi ia untuk mendapatkannya.
  4. Orang yang memasarkan produk mendapatkan upah atau bonus dengan kadar yang sudah ditentukan. Seperti misalnya, jika seseorang berhasil menjual produk, maka ia akan mendapatkan 40.000. Ini jika yang memasarkan produk satu orang. Jika yang memasarkan lebih dari satu, semisal Zaid menunjukkan pada Muhammad, lalu Muhammad menunjukkan pada Sa’ad, lalu Sa’ad akhirnya membeli; maka masing-masing mereka tadi mendapatkan bonus yang sama atau berbeda-beda sesuai kesepakatan.
____________________________________________________________________
CATATAN :
Sumber : https://rumaysho.com/2490-meninjau-hukum-mlm.html

Read more https://konsultasisyariah.com/28865-hukum-go-food-dan-riba.html
Read more https://konsultasisyariah.com/29181-go-pay-itu-riba.html

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑