Notulensi Kajian Islam Bersama Ustadz Yudi Kurnia, Lc – Tema (Menghindar Dari Fitnah Bagian Dari Agama)


👤 UST YUDI KURNIA, LC –  (MENGHINDAR DARI FITNAH BAGIAN DARI AGAMA)
📆 9 MEI 2017 / 12 SYABAN 1348H
🕌 Masjid Syaikh Hamad Al Hamad (IMAM SYAFI’I) – Depok

Bismillahi…

Berikut ini matan (redaksi) hadits Shahih Bukhari ke-22:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ رضى الله عنه – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ ، وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ ، ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَخْرِجُوا مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ . فَيُخْرَجُونَ مِنْهَا قَدِ اسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِى نَهَرِ الْحَيَا – أَوِ الْحَيَاةِ ، شَكَّ مَالِكٌ – فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِى جَانِبِ السَّيْلِ ، أَلَمْ تَرَ أَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً . قَالَ وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا عَمْرٌو الْحَيَاةِ . وَقَالَ خَرْدَلٍ مِنْ خَيْرٍ


Dari Abu Said Al-Khudri r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setelah penduduk surga masuk ke surga dan penduduk neraka masuk ke neraka, maka Allah Ta’ala pun berfirman, ‘Keluarkanlah dari neraka orang-orang yang dalam hatinya terdapat iman walaupun sebesar biji sawi.’ Mereka pun dikeluarkan dari neraka. Hanya saja tubuh mereka telah hitam legam bagaikan arang. Oleh karena itu, mereka dilemparkan ke sungai Haya’ atau hayat –terdapat keraguan dari Imam Malik. Kemudian tubuh mereka berubah bagaikan benih yang tumbuh setelah banjir. Tidakkah engkau melihat benih tersebut tumbuh berwarna kuning dan berlipat-lipat.” Wuhaib berkata, “Amr menceritakan kepada kami, “Sungai Al-Hayat”dan Wuhaib berkata, “kebaikan sebesar biji sawi.”

Penjelasan Hadits

يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ ، وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ ، ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَخْرِجُوا مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ

Setelah penduduk surga masuk ke surga dan penduduk neraka masuk ke neraka, maka Allah Ta’ala pun berfirman, ‘Keluarkanlah dari neraka orang-orang yang dalam hatinya terdapat iman walaupun sebesar biji sawi.’

Hadits ini menjelaskan bahwa kelak, orang-orang yang masuk ke surga berdiam di sana. Abadi dalam nikmat Allah SWT. Sementara, orang-orang yang masuk neraka akan “diseleksi” lagi. Diantara mereka ada “penduduk tetap” yang kekal di neraka, yaitu orang-orang kafir dan munafik; yang tidak memiliki keimanan sedikitpun. Sedangkan orang-orang mukmin yang masuk neraka karena kemaksiatannya namun masih memiliki iman, mereka menjadi “penduduk sementara”. Suatu saat, dengan kehendak-Nya Allah SWT mengeluarkan mereka dari neraka. Allah memberi perintah : أَخْرِجُوا مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ ‘Keluarkanlah dari neraka orang-orang yang dalam hatinya terdapat iman walaupun sebesar biji sawi.’

مِثْقَالُ حَبَّةٍ (walaupun sebesar biji sawi) maksudnya adalah iman yang paling kecil. Al-Khatabi menjelaskan bahwa kata itu tidak bermaksud menunjukkan berat, namun standar dalam pengetahuan, karena mengungkapkan sesuatu yang terlintas dalam pikiran dengan sesuatu yang terlihat menjadikannya lebih mudah dipahami. Jika diketahui benda yang paling kecil saat ini adalah nukleus (inti atom), bahkan proton atau neutron, maka itupun bisa dipakai untuk memaknai maksud “habbah”.

فَيُخْرَجُونَ مِنْهَا قَدِ اسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِى نَهَرِ الْحَيَا – أَوِ الْحَيَاةِ ، شَكَّ مَالِكٌ –

Mereka pun dikeluarkan dari neraka. Hanya saja tubuh mereka telah hitam legam bagaikan arang. Oleh karena itu, mereka dilemparkan ke sungai Haya’ atau hayat –terdapat keraguan dari Imam Malik.

Setelah diperintahkan oleh Allah, orang-orang yang memiliki keimanan -meskipun dengan keimanan yang paling kecil- itu pun dikeluarkan dari neraka. Yang menjadi masalah, setelah sekian lama “terbakar” di neraka, tubuh mereka menjadi hitam legam. Wallaahu a’lam bagaimana hakikatnya, karena kondisi akhirat jelas berbeda dengan kondisi di dunia. Yang pasti, tubuh yang hitam seperti arang ini menjadi masalah dan perlu “diperbaiki” sebelum masuk surga. Karenanya ia “dicuci” di sungai hayaa atau hayaat. Imam Malik –yang menjadi salah satu rawi hadits ini hingga sampai ke Imam Bukhari- ragu-ragu mana diantara dua nama ini yang benar.

Kata hayaa (الْحَيَا) artinya hujan yang dapat menumbuhkan tanaman. Dinamakan demikian karena sungai ini begitu dimasuki, tubuh yang tadinya hitam seperti arang berubah segar, seperti tanaman yang tumbuh setelah hujan. Sedangkan kata hayat (الْحَيَاةِ) berarti kehidupan. Disebut sungai kehidupan karena ia menghidupkan tubuh yang tadinya hitam legam, tidak hidup dan tidak mati akibat siksa neraka, menjadi hidup kembali dengan sempurna.

Di akhir hadits ini Imam Bukhari menyebutkan ketegasan rawi lain –yaitu Wuhaib- yang tanpa ragu-ragu menyebutkan bahwa yang benar adalah hayat (sungai kehidupan).

فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِى جَانِبِ السَّيْلِ ، أَلَمْ تَرَ أَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً

Kemudian tubuh mereka berubah bagaikan benih yang tumbuh setelah banjir. Tidakkah engkau melihat benih tersebut tumbuh berwarna kuning dan berlipat-lipat.

Kata الْحِبَّةُ berarti benih tumbuh-tumbuhan. Jadi setelah “dicuci” di sungai hayat, tubuh mereka laksana buih yang tumbuh; segar, berwarna kuning (warna kulit yang indah), dan berlipat-lipat bagusnya.

Dikatakan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani, bahwa hadits ini ditempatkan di kitabul iman sebagai hujjah yang membantah keyakinan golongan murji’ah yang berpendapat bahwa iman tidak bisa bertambah dan berkurang. Padahal di dalam hadits ini dijelaskan bahwa ada orang yang imannya sangat kecil, mereka masuk neraka terlebih dahulu. Hadits ini juga membantah keyakinan golongan mu’tazilah yang menyatakan bahwa orang yang berbuat maksiat akan kekal di neraka.

 

Dan Dalil bahwa orang beriman di neraka mengenai iman mereka yang berlebih maupun kurang diambil dari hadist mulia yg intinya :

مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ

‘maka Allah Ta’ala pun berfirman, ‘Keluarkanlah dari neraka orang-orang yang dalam hatinya terdapat iman walaupun sebesar biji sawi.’

Jika seorang beriman mengerjakan dosa besar/ dosa kecil lalu ketika di neraka ia memiliki iman seberat biji sawi maka ia tidak akan kekal di neraka, hal ini yang mengakibatkan iman mereka kecil yaitu amal perbuatan mereka yang terlalu sedikit.

Syaikh Sholih Al Utsaimin Mengatakan : “Kalau kita akatakan amal bagian dari iman, maka iman itu pastinya ada pada diri seorang beriman kurang/lebih, barangsiapa yang membaca satu juz Al-Quran dengan Setengah Juz Al Quran maka sudah tentu lebih afdhol yang membaca Satu Juz Al Quran maka begitupun semakin besar amal yang seseorang kerjakan maka imanya akan semakin kuat”

Pelajaran Hadits
Diantara pelajaran hadits yang bisa kita ambil dari hadits di atas adalah sebagai berikut:
1. Keimanan manusia bertingkat-tingkat, ada yang sempurna, ada yang besar, dan ada pula yang kecil, bahkan sangat kecil;
2. Orang yang beriman namun bermaksiat dan belum mendapat ampunan dari Allah SWT, maka ia akan dimasukkan ke neraka terlebih dahulu;
3. Orang yang memiliki iman, meskipun sangat kecil, tidak akan kekal di neraka. Ia akan dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke surga;
4. Di akhirat ada sungai hayat (sungai kehidupan) yang fungsinya mencuci orang yang dikeluarkan dari neraka, mengubah mereka dari kondisi yang semula hitam legam tubuhnya menjadi segar, kekuning-kuningan seperti benih yang baru tumbuh;
5. Siksa di akhirat sangat pedih dan keras hingga menjadikan tubuh berwarna hitam seperi arang, meskipun kulitnya selalu diganti begitu hancur karena api neraka itu;
6. Diperbolehkan menggunakan analogi untuk memudahkan tersampainya ilmu dan menjadikan orang lain lebih memahami maksudnya;
7. Jika seseorang ragu-ragu antara dua hal yang diingatnya (mana yang benar), hendaklah ia menyebutkan keduanya seperti yang dilakukan Imam Malik dalam meriwayatkan hadits ini;
8. Iman adalah kunci masuk surga. Orang yang beriman terbagi menjadi dua golongan dalam memasuki surga. Pertama, langsung masuk surga tanpa masuk neraka. Kedua, masuk neraka terlebih dahulu baru kemudian masuk surga. Sedangkan orang yang tidak beriman, mereka akan kekal di neraka.

___________________________________________________________________________________________

Berikut ini matan (redaksi) hadits Shahih Bukhari ke-23:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِىَّ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُ النَّاسَ يُعْرَضُونَ عَلَىَّ ، وَعَلَيْهِمْ قُمُصٌ مِنْهَا مَا يَبْلُغُ الثُّدِىَّ ، وَمِنْهَا مَا دُونَ ذَلِكَ ، وَعُرِضَ عَلَىَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَعَلَيْهِ قَمِيصٌ يَجُرُّهُ . قَالُوا فَمَا أَوَّلْتَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الدِّينَ

Dari Abu Said Al-Khudri r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku bermimpi dalam tidurku seakan-akan aku melihat manusia di hadapankan kepadaku. Baju mereka diantaranya ada yang sebatas buah dada dan ada yang kurang dari itu. Dan kulihat pula Umar bin Khattab memakai baju yang dihela-helanya karena sangat panjang.” Rasulullah ditanya, “Apakah takwil mimpi Anda ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “agama.

Penjelasan Hadits

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُ النَّاسَ يُعْرَضُونَ عَلَىَّ

Aku bermimpi dalam tidurku seakan-akan aku melihat manusia di hadapankan kepadaku.

Dalam hadits ini Rasulullah SAW menceritakan mimpinya. Dan sebagaimana telah diketahui bahwa mimpi Rasulullah adalah benar. Ia tidak seperti mimpi bagi manusia pada umumnya, yang tidak bisa dijadikan hujjah.

وَعَلَيْهِمْ قُمُصٌ مِنْهَا مَا يَبْلُغُ الثُّدِىَّ ، وَمِنْهَا مَا دُونَ ذَلِكَ

Baju mereka diantaranya ada yang sebatas buah dada dan ada yang kurang dari itu.

Kalimat الثدي adalah bentuk jamak dari ثدي , artinya buah dada. Kalimat itu merupakan bentuk mudzakkar, meskipun ada pula ahli bahasa yang mengatakan sebagai bentuk mu’annats. Namun yang benar, kalimat الثدي bisa digunakan untuk menyebutkan baik laki-laki maupun perempuan. Terlebih dalam lanjutan hadits ini disebutkan nama Umar bin Khatab.

، وَعُرِضَ عَلَىَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَعَلَيْهِ قَمِيصٌ يَجُرُّهُ

Dan kulihat pula Umar bin Khattab memakai baju yang dihela-helanya karena sangat panjang

Disebutkan secara khusus nama Umar di sini juga untuk menunjukkan keutamaan Umar bin Khatab. Bahwa beliau dengan segala kelebihannya, yang tegas terhadap kebenaran, kokoh dalam membela Islam hingga diberikan gelar Al-Faruq memang memiliki keutamaan yang luar biasa. Salah satunya adalah persaksian Rasulullah SAW dalam mimpinya ini.

. قَالُوا فَمَا أَوَّلْتَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ

Rasulullah ditanya, “Apakah takwil mimpi Anda ya Rasulullah?”

Inilah para sahabat. Mereka sangat antusias dalam menerima pelajaran dari Rasulullah SAW dan sangat bersemangat untuk beramal. Meskipun pada dasarnya mereka tidak banyak bertanya, namun jika mereka belum menangkap secara jelas maksud Rasulullah maka mereka akan bertanya. Dan dalam kesempatan ini mereka melakukannya. Lalu Rasulullah menjawab dengan jawaban singkat, namun dipahami para sahabat: الدِّينَ “agama”

Bahwa baju dalam mimpi tersebut adalah takwil dari agama. Artinya, orang-orang mukmin memiliki kualitas beragama yang bertingkat-tingkat. Ada yang rendah, ada yang tinggi, dan ada yang sangat tinggi seperti Umar. Bukankah di hadits sebelumnya telah dibahas bahwa iman seseorang juga ada yang sangat kecil hingga ia menjadi penghuni surga yang datang terakhir ke sana?

Pernah Suatu saya (Ust Yudi Kurnia) bermajelis di majelisnya Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat beliau pernah bermimpi melihat syaikh bin baz dan beberapa ulama sedang thowaf dengan telanjang maka seketika beliau menafsirkan mimpi tersebut dengan mengatakan bahwa sungguh para ulama telanjang dalam artian telah dibersihkan dosa dosanya.

Syaikh Utsaimin :”Sesungguhnya nabi mengatakan ini pujian sedangkan gamis yang menjulur yaitu agama Umar yang menutupi seluruh tubuhnya hingga ke kakinya dan tidaklah Umar melangkah melainkan sudah terbentang dan terdinding dengan Agama, sedangkan pakaian disebut dengan artian maknawi saja”
Pelajaran Hadits
Diantara pelajaran hadits yang bisa kita ambil dari hadits di atas adalah sebagai berikut:
1. Mimpi Rasulullah SAW adalah benar. Apa yang diceritakan Rasulullah SAW dari mimpinya adalah wahyu yang perlu diketahui oleh para sahabat dan umatnya untuk diambil sebagai pelajaran dan tuntunan;
2. Manusia dalam bergama memiliki tingkatan kualitas yang berbeda-beda;
3. Agama dilambangkan dengan baju bisa diartikan bahwa agama adalah pelindung bagi seseorang dari teriknya siksa dan hinanya murka Allah, serta merupakan kehormatan hakiki bagi hambaNya;
4. Hadits ini menunjukkan salah satu keutamaan Umar bin Khatab.

Yuk Tunggu Artikel Islami Selanjutnya yang InsyaaAllah bermanfaat, dan jangan lupa agar di sebarluaskan.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, hadits dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Hanya di
Ilmu Sebelum Beramal-
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑