UNTUKMU YANG GALAU | PART [1]


๐Ÿ‘ค Penulis : ABU HUDZAIFAH
๐Ÿ“† 19 MEI 2017 / 21 SYABAN 1438H
______________________

Bismillahi…

Galau, memang kata yang singkat berjumlah lima huruf namun maknanya dalam. Tentu saja Saudaraku seiman kita harus mengetahui indikasi Galau itu seperti apa, kita tidak boleh galau yang dapat mendatangkan Murka Allah.

Ayat-ayat yang memberikan pesan semakna dengan ayat-ayat di atas masih banyak. Bahkan Allah juga mengisyaratkan hal ini di dalam ayat yang senantiasa dibaca oleh umat Islam di dalam salatnya. Allah berfirman,

ุบูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ุถููˆุจู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ุถูŽู‘ุงู„ูู‘ูŠู†ูŽ

โ€œBukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan jalan mereka yang sesat.โ€ (QS. Al-Fatihah: 7)

Syaikh Sholih Fauzan dan para ulama yang lain rahimahumullah menjadikan ayat ini sebagai bukti bahwa ghadhab (marah/murka) adalah salah satu sifat Allah taโ€™ala.[1]

Namun sangat disayangkan saudara-saudara kita Galau karena hal yang tidak bermanfaat diantaranya, karena tidak diajak main oleh temanya yg buruk, karena tidak diberikan uang jajan oleh orang tua dan anehnya lagi diantara mereka ada yang galau karena diputusin pacar.

Tentu [PENULIS] katakan galau itu ketika antum semua Allah berikan kemampuan dan kesiapan dalam segi Lahir maupun Batin namun antum gak segera menikah

Allah Taโ€™ala berfirman:

ูˆูŽุฃูŽู†ู’ูƒูุญููˆุง ุงู„ู’ุฃูŽูŠูŽุงู…ูŽู‰ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏููƒูู…ู’ ูˆูŽุฅูู…ูŽุงุฆููƒูู…ู’ ุฅูู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ููˆุง ููู‚ูŽุฑูŽุงุกูŽ ูŠูุบู’ู†ูู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ููŽุถู’ู„ูู‡ู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงุณูุนูŒ ุนูŽู„ููŠู…ูŒ

โ€œDan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahuiโ€ (QS. An Nur: 32).

Ingat, untukmu yang Galau segerakan Allah berikan kekayaan. Sudah tentu bagimu yang belum siap maka Opsi untukmu hanyalah Puasa

sebagaimana diriwayat-kan oleh al-Bukhari dari โ€˜Abdullah bin Masโ€™ud Radhiyallahu anhu. Ia menuturkan: โ€œKami bersama Nabi Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam sebagai pemuda yang tidak mempunyai sesuatu, lalu beliau bersabda kepada kami:

ูŠูŽุง ู…ูŽุนู’ุดูŽุฑูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุจูŽุงุจูุŒ ู…ูŽู†ู ุงุณู’ุชูŽุทูŽุงุนูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู ุงู„ู’ุจูŽุงุกูŽุฉูŽ ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุฒูŽูˆู‘ูŽุฌู’ุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุบูŽุถู‘ู ู„ูู„ู’ุจูŽุตูŽุฑู ูˆูŽุฃูŽุญู’ุตูŽู†ู ู„ูู„ู’ููŽุฑู’ุฌูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุทูุนู’ ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุจูุงู„ุตู‘ูŽูˆู’ู…ูุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู‡ู ูˆูุฌูŽุงุกูŒ.

โ€˜Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).’โ€ [2]

Tentu saja, hal ini sangat berat dihati bagimu yang tertekan. Bagimu yang tak kunjung jua izin dari sang kedua orangtua. Padahal kita mengetahui akan Wajibnya pernikahan bagi kita seorang anak, seandainya mereka mengetahui bahwa Nabi memerintahkan menyegerakan menikah bagi pemuda, tentu hati ini tak kan tersakiti oleh berjalannya hari.

Saudaraku Seiman, bagaimanakah pendapat Ulama dalam masalah Nikah yang sangat amat sensitif bagi para Jomblo [Termasuk Penulis] ?

Apakah menikah itu wajib ataukah sunnah? Apakah berdosa orang yang tidak menikah padahal ia mampu untuk menikah?

Allah Taโ€™ala berfirman:

ูˆูŽุฃูŽู†ู’ูƒูุญููˆุง ุงู„ู’ุฃูŽูŠูŽุงู…ูŽู‰ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏููƒูู…ู’ ูˆูŽุฅูู…ูŽุงุฆููƒูู…ู’ ุฅูู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ููˆุง ููู‚ูŽุฑูŽุงุกูŽ ูŠูุบู’ู†ูู‡ูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ููŽุถู’ู„ูู‡ู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงุณูุนูŒ ุนูŽู„ููŠู…ูŒ

โ€œDan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahuiโ€ (QS. An Nur: 32).

Dalam ayat An Nur: 32 terdapat perintah untuk menikah. Namun para ulama berbeda pendapat mengenai apakah menikah itu wajib ataukah sunnah menjadi 3 pendapat:

Pendapat pertama

Madzhab zhahiri berpendapat bahwa hukum menikah adalah wajib, dan orang yang tidak menikah itu berdosa. Mereka berdalil dengan ayat di atas, yang menggunakan kalimat perintah ูˆูŽุฃูŽู†ู’ูƒูุญููˆุง (dan nikahkanlah..) dan perintah itu menunjukkan hukum wajib.

Mereka juga mengatakan bahwa menikah adalah jalan untuk menjaga diri dari yang haram. Dan kaidah mengatakan:

ู…ุง ู„ุง ูŠุชู… ุงู„ูˆุงุฌุจ ุฅู„ุง ุจู‡ ูู‡ูˆ ูˆุงุฌุจ

โ€œkewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu tersebut hukumnya wajibโ€

Pendapat kedua

Madzhab Syafiโ€™i berpendapat bahwa hukum menikah adalah mubah, dan orang yang tidak menikah itu tidak berdosa. Imam Asy Syafiโ€™i mengatakan bahwa menikah itu adalah sarana menyalurkan syahwat dan meraih kelezatan syahwat (yang halal), maka hukumnya mubah saja sebagaimana makan dan minum.

Pendapat ketiga

Pendapat jumhur ulama, yaitu madzhab Maliki, Hanafi dan Hambali berpendapat bahwa hukum menikah itu mustahab (sunnah) dan tidak sampai wajib.

Mereka berdalil dengan beberapa poin berikut:

  1. Andaikan menikah itu wajib maka tentu ternukil riwayat dari Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam yang menyatakan hal itu karena menikah adalah kebutuhan yang dibutuhkan semua orang. Sedangkan kita temui diantara para sahabat Nabi ada yang tidak menikah. Demikian juga kita temui orang-orang sejak zaman Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam hingga zaman kita sekarang ini ada yang sebagian yang tidak menikah sama sekali. Dan tidak ternukil satu pun pengingkaran beliau terhadap hal ini.
  2. Jika menikah itu wajib, maka seorang wali boleh memaksakan anak gadisnya untuk menikah. Padahal memaksakan anak perempuan untuk menikah justru dilarang oleh syariat. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam :
    ูˆู„ุง ุชูู†ู’ูƒูŽุญ ุงู„ุซูŠุจ ุญุชู‰ ุชุณุชุฃู…ุฑ

    โ€œjangan engkau nikahkan seorang perawan hingga ia mau (ridha)โ€
    maksudnya hingga gadis tersebut mau dan ridha untuk menikah

  3. Al Jashash berkata:
    ูˆู…ู…ุง ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุฏุจ ุงุชูุงู‚ ุงู„ุฌู…ูŠุน ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุฌุจุฑ ุงู„ุณูŠุฏ ุนู„ู‰ ุชุฒูˆูŠุฌ ุนุจุฏู‡ ูˆุฃู…ุชู‡ ูˆู‡ูˆ ู…ุนุทูˆู ุนู„ู‰ ุงู„ุฃูŠุงู…ู‰ ูุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู…ู†ุฏูˆุจ ููŠ ุงู„ุฌู…ูŠุน

    โ€œdiantara yang menunjukkan sunnahnya menikah (tidak wajibnya), yaitu ulama sepakat bahwa seorang tuan tidak boleh memaksakan budak laki-laki atau budak wanitanya untuk menikah. Padahal budak dalam ayat di atas di-athaf-kan dengan al ayaama (orang yang sendirian). Ini menunjukkan bahwa hukum menikah adalah sunnah untuk semua (yang disebutkan dalam ayat)โ€

Maka yang rajih adalah pendapat jumhur ulama, bahwa menikah hukumnya adalah sunnah dan tidak sampai wajib, wallahu aโ€™lam.

Namun perlu digaris-bawahi, khilafiyah yang di bahas di atas adalah jika seseorang dalam kondisi yang aman dari fitnah dan aman dari resiko terjerumus dalam hal-hal yang diharamkan oleh Allah terkait syahwat kepada wanita. Adapun jika seseorang khawatir terjerumus ke dalam fitnah semisal zina dan lainnya, tidak ada khilaf di antara para ulama bahwa nikah dalam keadaan ini adalah wajib. Karena membentengi dan menjaga diri dari perkara haram itu wajib, sehingga dalam kondisi ini menikah hukumnya wajib. Al Qurthubi berkata:

ู‚ุงู„ ุนู„ู…ุงุคู†ุง: ูŠุฎุชู„ู ุงู„ุญูƒู… ููŠ ุฐู„ูƒ ุจุงุฎุชู„ุงู ุญุงู„ ุงู„ู…ุคู…ู† ู…ู† ุฎูˆู ุงู„ุนู†ุช ุงู„ุฒู†ู‰ุŒ ูˆู…ู† ุนุฏู… ุตุจุฑู‡ุŒ ูˆู…ู† ู‚ูˆุชู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุตุจุฑุŒ ูˆุฒูˆุงู„ ุฎุดูŠุฉ ุงู„ุนู†ุช ุนู†ู‡ ูˆุฅุฐุง ุฎุงู ุงู„ู‡ู„ุงูƒ ููŠ ุงู„ุฏูŠู† ุฃูˆ ุงู„ุฏู†ูŠุง ูุงู„ู†ูƒุงุญ ุญุชู… ูˆู…ู† ุชุงู‚ุช ู†ูุณู‡ ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ูƒุงุญ ูุฅู† ูˆุฌุฏ ุงู„ุทู‘ูŽูˆู’ู„ ูุงู„ู…ุณุชุญุจ ู„ู‡ ุฃู† ูŠุชุฒูˆุฌ. ูˆุฅู† ู„ู… ูŠุฌุฏ ุงู„ุทูˆู„ ูุนู„ูŠู‡ ุจุงู„ุงุณุชุนูุงู ู…ุง ุฃู…ูƒู† ูˆู„ูˆ ุจุงู„ุตูˆู… ู„ุฃู† ุงู„ุตูˆู… ู„ู‡ ูˆูุฌุงุกูŒ ูƒู…ุง ุฌุงุก ููŠ ุงู„ุฎุจุฑ ุงู„ุตุญูŠุญ

โ€œPara ulama kita berkata, hukum nikah itu berbeda-beda tergantun keadaan masing-masing orang dalam tingkat kesulitannya menghindari zina dan juga tingkat kesulitannya untuk bersabar. Dan juga tergantung kekuatan kesabaran masing-masing orang serta kemampuan menghilangkan kegelisahan terhadap hal tersebut. Jika seseorang khawatir jatuh dalam kebinasaan dalam agamanya atau dalam perkara dunianya, maka nikah ketika itu hukumnya wajib. Dan orang yang sangat ingin menikah dan ia memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar untuk menikah hukumnya mustahab baginya. Jika ia tidak memiliki sesuatu yang tidak bisa dijadikan mahar, maka ia wajib untuk istiโ€™faf (menjaga kehormatannya) sebisa mungkin. Misalnya dengan cara berpuasa, karena dalam puasa itu terdapat perisai sebagaimana disebutkan dalam hadits shahihโ€.

Oleh Karenanya, Kegalauan ini harus di bimbing dalam kebaikan, dalam kesendirian mu wahai saudara/i ku seiman maka manfaatkanlah dan biasakan dirimu menghadiri majelis ilmu yang denganya ilmu mu akan semakin bertambah.

Bersambung….
Tentu setelah membaca artikel singkat ini “UNTUKMU YANG GALAU” akan lebih bermanfaat jika kita mengamalkan dan menyebarkan ilmu yang singkat ini.

REFERENSI :

[1] Syarah lumโ€™atul iโ€™tiqad: 78

[2]. HR. Al-Bukhari (no. 5066) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1402) kitab an-Nikaah, dan at-Tirmidzi (no. 1087) kitab an-Nikaah.
Pensyarah kitab Tuhfatul Ahwadzi berkata: โ€œAl-baa-u asalnya dalam bahasa Arab, berarti jimaโ€™ yang diambil dari kata al-mabaa-ah yang berarti tempat tinggal. Mampu dalam hadits ini memiliki dua makna, mampu berjimaโ€™ dan mampu memikul beban nikah.โ€ Demikianlah maksud dalam hadits tersebut, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyyah rahimahullah, hal. 12 dari kitab Tuhfatul Ahwadzi. Kemudian para ulama berkata: โ€œAdapun orang yang tidak mampu berjimaโ€™, maka ia tidaklah butuh berpuasa. Jika demikian, maka makna kedua lebih shahih.โ€

Yuk Tunggu Artikel Islami Selanjutnya yang InsyaaAllah bermanfaat, dan jangan lupa agar di sebarluaskan.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, hadits dari sahabat Uqbah bin โ€˜Amr bin Tsaโ€™labah radhiallahuโ€™anhu, bahwaย Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam bersabda:

ู…ู† ุฏูŽู„ู‘ูŽ ุนู„ู‰ ุฎูŠุฑู ูู„ู‡ ู…ุซู„ู ุฃุฌุฑู ูุงุนู„ูู‡

โ€œBarangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannyaโ€ (HR. Muslim no. 1893).

Hanya di
Ilmu Sebelum Beramal-
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑