Notulensi Kajian Islam Bersama Ustadz Subhan Bawazier โ€“ Tema (JENGGOT YES)


๐Ÿ‘ค UST SUBHAN BAWAZIER –ย  (JENGGOT YES)
๐Ÿ“† 20 MEI 2017 / 22 SYABAN 1438H
๐Ÿ•Œ Masjid Blok M Square Lt.7 – Jakarta Selatan

________________________

Bismillah…

Memelihara dan membiarkan jenggot merupakan syariโ€™at Islam dan ajaran Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Marilah kita lihat bagaimana bentuk fisik Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang berjenggot.

Dari Anas bin Malik โ€“pembantu Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallamโ€“ mengatakan,

โ€Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bukanlah laki-laki yang berperawakan terlalu tinggi dan tidak juga pendek. Kulitnya tidaklah putih sekali dan tidak juga coklat. Rambutnya tidak keriting dan tidak lurus. Allah mengutus beliau sebagai Rasul di saat beliau berumur 40 tahun, lalu tinggal di Makkah selama 10 tahun. Kemudian tinggal di Madinah selama 10 tahun pula, lalu wafat di penghujung tahun enam puluhan. Di kepala serta jenggotnya hanya terdapat 20 helai rambut yang sudah putih.โ€ (Lihat Mukhtashor Syamaโ€™il Al Muhammadiyyah, Muhammad Nashirudin Al Albani, hal. 13, Al Maktabah Al Islamiyyah Aman-Yordan. Beliau katakan hadits ini shohih)

Lihatlah saudaraku, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dalam riwayat di atas dengan sangat jelas terlihat memiliki jenggot. Lalu pantaskah orang berjenggot dicela?!

Ntuh Nabi saja berjenggot , jadi mulai sekarang. Orang yang mencela jenggot berarti dia telah mencela Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam

Saudaraku, perlulah engkau tahu bahwa memangkas jenggot adalah suatu hal yang terlarang berdasarkan alasan-alasan berikut:

Pertama: Menyelisihi Perintah Nabi

Memelihara jenggot diperintahkan oleh Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam secara langsung. Berdasarkan kaedah yang sudah dikenal oleh para ulama bahwa hukum asal suatu perintah adalah wajib. Jadi, jika Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œBiarkanlah jenggotโ€, karena itu adalah kalimat perintah, maka hukumnya adalah wajib. Perintah ini bisa beralih menjadi sunnah (dianjurkan) jika memang ada dalil yang memalingkannya. Namun dalam masalah membiarkan (memelihara) jenggot tidak ada satu dalil pun yang bisa memalingkan dari hukum wajib. Sehingga memelihara jenggot dan tidak memangkasnya adalah suatu kewajiban.

Di antara hadits yang menunjukkan bahwa hal ini termasuk perintah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam sehingga menghasilkan hukum wajib adalah hadits berikut.

Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฎูŽุงู„ููููˆุง ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ ุฃูŽุญู’ูููˆุง ุงู„ุดู‘ูŽูˆูŽุงุฑูุจูŽ ูˆูŽุฃูŽูˆู’ูููˆุง ุงู„ู„ู‘ูุญูŽู‰

โ€œSelisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.โ€[1]

Ibnu โ€˜Umar berkata,

ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุจูุฅูุญู’ููŽุงุกู ุงู„ุดู‘ูŽูˆูŽุงุฑูุจู ูˆูŽุฅูุนู’ููŽุงุกู ุงู„ู„ู‘ูุญู’ูŠูŽุฉู.

โ€œBeliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong pendek kumis dan membiarkan (memelihara) jenggot.โ€[2]

Yang dimaksud dengan membiarkan jenggot adalah membiarkannya sebagaimana adanya[3], artinya jenggot tidak boleh dipangkas.

Kedua: Tasyabbuh (Menyerupai) Orang Kafir

Mencukur jenggot termasuk tasyabbuh (menyerupai) orang kafir, sebagaimana sabda Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam,

ุฌูุฒู‘ููˆุง ุงู„ุดู‘ูŽูˆูŽุงุฑูุจูŽ ูˆูŽุฃูŽุฑู’ุฎููˆุง ุงู„ู„ู‘ูุญูŽู‰ ุฎูŽุงู„ููููˆุง ุงู„ู’ู…ูŽุฌููˆุณูŽ

โ€œPendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.โ€[4]

Ketiga: Tasyabbuh (Menyerupai) Wanita

Kita ketahui bersama bahwa secara normal, wanita tidak berjenggot. Sehingga jika ada seorang pria yang ย memangkas jenggotnya hingga bersih, maka dia akan serupa dengan wanita. Padahal,

ู„ูŽุนูŽู†ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู โ€“ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… โ€“ ุงู„ู’ู…ูุชูŽุดูŽุจู‘ูู‡ููŠู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูุฌูŽุงู„ู ุจูุงู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู

โ€œRasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita.โ€[5]

Catatan: Hal ini tidak menunjukkan bahwa orang yang tidak memiliki jenggot -secara alami- menjadi tercela. Perlu dipahami bahwa hukum memelihara jenggot ditujukan bagi orang yang memang memiliki jenggot.

Keempat: Menyelisihi Fitrah Manusia

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุนูŽุดู’ุฑูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ููุทู’ุฑูŽุฉู ู‚ูŽุตู‘ู ุงู„ุดู‘ูŽุงุฑูุจู ูˆูŽุฅูุนู’ููŽุงุกู ุงู„ู„ู‘ูุญู’ูŠูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุณู‘ููˆูŽุงูƒู ูˆูŽุงุณู’ุชูู†ู’ุดูŽุงู‚ู ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ูˆูŽู‚ูŽุตู‘ู ุงู„ุฃูŽุธู’ููŽุงุฑู ูˆูŽุบูŽุณู’ู„ู ุงู„ู’ุจูŽุฑูŽุงุฌูู…ู ูˆูŽู†ูŽุชู’ูู ุงู„ุฅูุจู’ุทู ูˆูŽุญูŽู„ู’ู‚ู ุงู„ู’ุนูŽุงู†ูŽุฉู ูˆูŽุงู†ู’ุชูู‚ูŽุงุตู ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู

โ€œAda sepuluh macam fitroh, yaitu memendekkan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinjaโ€™ (cebok) dengan air.โ€[6]

Di antara definisi fitroh adalah ajaran para Nabi, sebagaimana yang dipahami oleh kebanyakan ulama.[7] Berarti memelihara jenggot termasuk ajaran para Nabi. Kita dapat melihat pada Nabi Harun yang merupakan Nabi Bani Israil. Dikisahkan dalam Surat Thaha bahwa beliau memiliki jenggot.

ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุง ุงุจู’ู†ูŽ ุฃูู…ู‘ูŽ ู„ูŽุง ุชูŽุฃู’ุฎูุฐู’ ุจูู„ูุญู’ูŠูŽุชููŠ ูˆูŽู„ูŽุง ุจูุฑูŽุฃู’ุณููŠ

โ€œHarun menjawabโ€™ โ€œHai putera ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku.โ€œ (QS. Thaha: 94). Dengan demikian, orang yang memangkas jenggotnya berarti telah menyeleweng dari fitrah manusia yaitu menyeleweng dari ajaran para Nabi.

Jadi Apa Hukum Memangkas Jenggot?

Berdasarkan dalil-dalil yang telah kami bawakan, kami dapat menyimpulkan bahwa hukum memangkas jenggot adalah haram. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

ูˆูŠูุญู’ุฑูŽู…ู ุญูŽู„ู’ู‚ู ุงู„ู„ูู‘ุญู’ูŠูŽุฉู

โ€œMemangkas jenggot itu diharamkan.โ€[8]

Imam Asy Syafiโ€™i sendiri dalam Al Umm berpendapat bahwa memangkas jenggot itu diharamkan sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Ar Rifโ€™ah ketika menyanggah ulama yang mengatakan bahwa mencukur jenggot hukumnya makruh.[9]

Seorang ulama Malikiyah, Kholil bin Ishaq Al Maliki mengatakan, โ€œDiharamkan bagi laki-laki untuk memangkas habis jenggot dan kumisnya. Pelakunya pun pantas mendapat hukuman.โ€[10]

Bahkan Ibnu Hazm dan ulama lainnya mengatakan bahwa haramnya memangkas jenggot adalah ijmaโ€™ (konsensus) ulama kaum muslimin.[11]

Ingat ya akhi, jenggot itu butuh dirawat artinya memang jenggot itu suatu kemuliaan sehingga benar benar ada kebanggaan bagi setiap yang melihara.

Aneh nya di masyarakat kita, mereka berjenggot nunggu pemain bola eropa berjenggot lalu mereka ikuti, harusnya mereka yang ngikutin style kita, kita muslim dan Nabi kita sudah memerintahkan dari jauh jauh hari.

Imam An-Nasai di dalam sunannya mengeluarkan hadits dengan sanad yang shahih dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu โ€˜anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda.

ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฃู’ ุฎูุฐู’ ู…ูู†ู’ ูŠูŽุฃู’ุฎูุฐู’ ู…ูู†ู’ ุดูŽุงุฑูุจูู‡ู ููŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูู†ู‘ูŽุง

โ€œArtinya : Barangsiapa yang tidak pernah mengambil dari kumisnya (memotongnya), maka dia bukan termasuk dari golongan kamiโ€ [12]

Untuk lebih detail silahkan merujuk kesini

Perintah Nabi Agar Memelihara Jenggot

Hadits pertama, dari Ibnu Umar radhiyallahu โ€˜anhuma, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฃูŽุญู’ูููˆุง ุงู„ุดู‘ูŽูˆูŽุงุฑูุจูŽ ูˆูŽุฃูŽุนู’ูููˆุง ุงู„ู„ู‘ูุญูŽู‰

โ€œPotong pendeklah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.โ€ (HR. Muslim no. 623)

Hadits kedua, dari Ibnu Umar radhiyallahu โ€˜anhuma, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฎูŽุงู„ููููˆุง ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ ุฃูŽุญู’ูููˆุง ุงู„ุดู‘ูŽูˆูŽุงุฑูุจูŽ ูˆูŽุฃูŽูˆู’ูููˆุง ุงู„ู„ู‘ูุญูŽู‰

โ€œSelisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.โ€ (HR. Muslim no. 625)

Hadits ketiga, dari Ibnu Umar radhiyallahu โ€˜anhuma, beliau berkata,

ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู…ูŽุฑูŽ ุจูุฅูุญู’ููŽุงุกู ุงู„ุดู‘ูŽูˆูŽุงุฑูุจู ูˆูŽุฅูุนู’ููŽุงุกู ุงู„ู„ู‘ูุญู’ูŠูŽุฉู.

โ€œBeliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memerintahkan untuk memotong pendek kumis dan membiarkan (memelihara) jenggot.โ€ (HR. Muslim no. 624)

Hadits keempat, dari Abu Huroiroh radhiyallahu โ€˜anhu, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฌูุฒู‘ููˆุง ุงู„ุดู‘ูŽูˆูŽุงุฑูุจูŽ ูˆูŽุฃูŽุฑู’ุฎููˆุง ุงู„ู„ู‘ูุญูŽู‰ ุฎูŽุงู„ููููˆุง ุงู„ู’ู…ูŽุฌููˆุณูŽ

โ€œPendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.โ€ (HR. Muslim no. 626)

Hadits kelima, dari Ibnu Umar radhiyallahu โ€˜anhuma, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุงู†ู’ู‡ูŽูƒููˆุง ุงู„ุดู‘ูŽูˆูŽุงุฑูุจูŽ ุŒ ูˆูŽุฃูŽุนู’ูููˆุง ุงู„ู„ู‘ูุญูŽู‰

โ€œCukur habislah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.โ€ (HR. Bukhari no. 5893)

Hadits keenam, dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุฎูŽุงู„ููููˆุง ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููŠู†ูŽ ุŒ ูˆูŽูู‘ูุฑููˆุง ุงู„ู„ู‘ูุญูŽู‰ ุŒ ูˆูŽุฃูŽุญู’ูููˆุง ุงู„ุดู‘ูŽูˆูŽุงุฑูุจูŽ

โ€œSelisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.โ€ (HR. Bukhari no. 5892)

Ulama besar Syafiโ€™iyyah, An Nawawi rahimahullah mengatakan, โ€Kesimpulannya ada lima riwayat yang menggunakan lafazh,

ุฃูŽุนู’ูููˆุง ูˆูŽุฃูŽูˆู’ูููˆุง ูˆูŽุฃูŽุฑู’ุฎููˆุง ูˆูŽุฃูŽุฑู’ุฌููˆุง ูˆูŽูˆูŽูู‘ูุฑููˆุง

Semua lafazh tersebut bermakna membiarkan jenggot tersebut sebagaimana adanya.โ€ (Lihat Syarh An Nawawi โ€˜alam Muslim, 1/416, Mawqiโ€™ Al Islam-Maktabah Syamilah 5)

Di samping hadits-hadits yang menggunakan kata perintah di atas, memelihara jenggot juga merupakan sunnah fithroh. Dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu โ€˜anha, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ุนูŽุดู’ุฑูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ููุทู’ุฑูŽุฉู ู‚ูŽุตู‘ู ุงู„ุดู‘ูŽุงุฑูุจู ูˆูŽุฅูุนู’ููŽุงุกู ุงู„ู„ู‘ูุญู’ูŠูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุณู‘ููˆูŽุงูƒู ูˆูŽุงุณู’ุชูู†ู’ุดูŽุงู‚ู ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ูˆูŽู‚ูŽุตู‘ู ุงู„ุฃูŽุธู’ููŽุงุฑู ูˆูŽุบูŽุณู’ู„ู ุงู„ู’ุจูŽุฑูŽุงุฌูู…ู ูˆูŽู†ูŽุชู’ูู ุงู„ุฅูุจู’ุทู ูˆูŽุญูŽู„ู’ู‚ู ุงู„ู’ุนูŽุงู†ูŽุฉู ูˆูŽุงู†ู’ุชูู‚ูŽุงุตู ุงู„ู’ู…ูŽุงุกู

โ€œAda sepuluh macam fitroh, yaitu memendekkan kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung,-pen), memotong kuku, membasuh persendian, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, istinjaโ€™ (cebok) dengan air.โ€ (HR. Muslim no. 627)

Jika seseorang mencukur jenggot, berarti dia telah keluar dari fitroh yang telah Allah fitrohkan bagi manusia. Allah Taโ€™ala berfirman,

ููŽุฃูŽู‚ูู…ู’ ูˆูŽุฌู’ู‡ูŽูƒูŽ ู„ูู„ุฏู‘ููŠู†ู ุญูŽู†ููŠูู‹ุง ููุทู’ุฑูŽุฉูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ููŽุทูŽุฑูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู„ูŽุง ุชูŽุจู’ุฏููŠู„ูŽ ู„ูุฎูŽู„ู’ู‚ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู ุงู„ู’ู‚ูŽูŠู‘ูู…ู ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู‘ูŽ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ

โ€œMaka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada penggantian pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.โ€ (QS. Ar Ruum [30] : 30)

Selain dalil-dalil di atas, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam juga sangat tidak suka melihat orang yang jenggotnya dalam keadaan tercukur.

Ketika Kisro (penguasa Persia) mengutus dua orang untuk menemui Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Mereka menemui beliau dalam keadaan jenggot yang tercukur dan kumis yang lebat. Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidak suka melihat keduanya. Beliau bertanya,โ€Celaka kalian! Siapa yang memerintahkan kalian seperti ini?โ€ Keduanya berkata, โ€Tuan kami (yaitu Kisra) memerintahkan kami seperti ini.โ€ Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€Akan tetapi, Rabb-ku memerintahkanku untuk memelihara jenggotku dan menggunting kumisku.โ€ (HR. Thabrani, Hasan. Dinukil dari Minal Hadin Nabawi Iโ€™faul Liha)

Lihatlah saudaraku, dalam hadits yang telah kami bawakan di atas menunjukkan bahwa memelihara jenggot adalah suatu perintah. Memangkasnya dicela oleh Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Menurut kaedah dalam Ilmu Ushul Fiqh, โ€Al Amru lil wujubโ€ yaitu setiap perintah menunjukkan suatu kewajiban.ย  Sehingga memelihara jenggot yang tepat bukan hanya sekedar anjuran, namun suatu kewajiban. Di samping itu, maksud memelihara jenggot adalah untuk menyelisihi orang-orang musyrik dan Majusi serta perbuatan ini adalah fithroh manusia yang dilarang untuk diubah.

Berdasar hadits-hadits di atas, memelihara jenggot tidak selalu Nabi kaitkan dengan menyelisihi orang kafir. Hanya dalam beberapa hadits namun tidak semua, Nabi kaitkan dengan menyelisihi Musyrikin dan Majusi. Sehingga tidaklah benar anggapan bahwa perintah memelihara jenggot dikaitkan dengan menyelisihi Yahudi.

Maka sudah sepantasnya setiap muslim memperhatikan perintah Nabi dan celaan beliau terhadap orang-orang yang memangkas jenggotnya. Jadi yang lebih tepat dilakukan adalah memelihara jenggot dan memendekkan kumis.

Perkataan Imam Nawawi berkenaan Makruh dalam Berjenggot yaitu :

  1. Menyemir Warna Hitam disaat berjihad tidak apa apa namun jika selain berjihad makruh
  2. Menyemir Warna Kuning dengan tujuan mengikuti orang sholih , namun hukum asalnya ketika timbul uban
  3. Mencabut / Mencukur diawal kemunculan uban
  4. Merawat dengan tujuan yang terlalu berlebihan
  5. Menambah / Mengurangi JANGGUT
  6. Menyisir sengaja karena manusia (RIYA)
  7. Membiarkan kusut supaya keliatan zuhud
  8. Membanggakan diri jika ia mempunyai jenggot
  9. Mengikat atau memintal jenggot
  10. Mencukur gundul jenggot
  11. Penulis ragu ragu
  12. Penulis ragu ragu

Catatan:

Namun, apakah kumis harus dipotong habis ataukah cukup dipendekkan saja? Berikut ini adalah intisari dari perkataan Al Qodhi Iyadh yang dinukil oleh An Nawawi dalam Syarh Muslim, 1/416.

Sebagian ulama salaf berpendapat bahwa kumis harus dicukur habis karena hal ini berdasarkan makna tekstual (zhohir) dari hadits yang menggunakan lafazh ahfuu dan ilhakuu. Inilah pendapat ulama-ulama Kufah. Ulama lainnya melarang untuk mencukur habis kumis. Ulama-ulama yang berpendapat demikian menganggap bahwa lafazh ihfaโ€™, jazzu, dan qossu adalah bermakna sama yaitu memotong kumis tersebut hingga nampak ujung bibir. Sebagian ulama lainnya memilih antara dua cara ini, boleh yang pertama, boleh juga yang kedua.

Pendapat yang dipilih oleh An Nawawi dan insya Allah inilah pendapat yang kuat dan lebih hati-hati adalah memendekkan kumis hingga nampak ujung bibir. Wallahu aโ€™lam bish showab.

_____________

REFERENSI :

[1]HR. Muslim no. 625, dari Ibnu โ€˜Umar

[2] HR. Muslim no. 624

[3] Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar, 16/484, Mawqiโ€™ Al Islam dan Syarh An Nawawi โ€˜ala Muslim, 1/416, Mawqiโ€™ Al Islam

[4] HR. Muslim no. 626, dari Abu Hurairah

[5] HR. Bukhari no. 5885, dari Ibnu โ€˜Abbas.

[6] HR. Muslim no. 627, dari Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu โ€˜anha

[7]ย Lihat Syarh An Nawawi โ€˜ala Muslim, 1/414

[8] Fatawa Al Kubro, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 5/302, Darul Maโ€™rifah, Beirut, cetakan pertama, 1386

[9]ย Lihat Iโ€™anatuth Tholibin, Al Bakri Ad Dimyathi, 2/386, Asy Syamilah

[10] Manhul Jalil Syarh Mukhtashor Kholil, 1/148, Mawqiโ€™ Al Islam

[11]ย Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/102, Maktabah At Taufiqiyah

[12] Sunan At-Turmudzi, kitab Al-Adab (2761), Sunan An-Nasai, kitab Ath-Thaharah (13) dan kitab Az-Zinah (5047)

Yuk Tunggu Artikel Islami Selanjutnya yang InsyaaAllah bermanfaat, dan jangan lupa agar di sebarluaskan.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, hadits dari sahabat Uqbah bin โ€˜Amr bin Tsaโ€™labah radhiallahuโ€™anhu, bahwaย Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam bersabda:

ู…ู† ุฏูŽู„ู‘ูŽ ุนู„ู‰ ุฎูŠุฑู ูู„ู‡ ู…ุซู„ู ุฃุฌุฑู ูุงุนู„ูู‡

โ€œBarangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannyaโ€ (HR. Muslim no. 1893).

Hanya di
Ilmu Sebelum Beramal-
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑