Ustadz DR. Syafiq Riza Basalamah, MA – Tema [PART 2] (13 Pertanyaan )


👤 UST DR. SYAFIQ RIZA BASALAMAH, MA – 13 PERTANYAAN
📆 24 MEI 2017 / 26 SYABAN 1438H
🕌 Perumahan Citra Gren Cibubur – Bogor

________________________

Bismillahi….

6. Qs. Al-Baqarah 222

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ ۖ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.

Jauhi perempuan disaat dia haidh para ulama mengatakan yang dijauhi tempat keluar darah. Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam pun makan dan minum bersama ketika aisyah haidh.

Pernah ketika aisyah haidh maka aisyah menyisiri nabi. bahkan ketika aisyah makan pun beliau bersama aisyah. Jadi dalam hal ini jama’ah ketika perempuan haidh tidak boleh dijauhi melainkan dijauhi apa yang keluar darahnya.

Jika perempuan belum suci maka tidak boleh digauli sampai ia mandi, inilah pendapat jumhur ulama. kenapa Allah melarang sesuatu maka Allah lebih mengetahui karena disitu banyak keburukan.

7. (Qs.Al-Maidah 4) BINATANG BUAS

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَاب

Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.

8. (Qs. Al-Arof 187)

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُون

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Sebagaimana sepadan dengan ayat lain dala Al Quran

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَ

(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya?

3 HAL ANG DITANYA :

  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada Kenabian
  3. Iman kepada Hari Akhir

Persiapan pada hari kiamat yaitu dengan persiapan hati sebagaimana abu bakar yang dikatakan bahwa beliau mempunyai timbangan yang berat sehingga dijadikan sebaik baik manusia setelah Rosulullah.

yang perlu kita siapkan kematian yang lebih dekat terhadap diri kita kemanusiaan tanpa bimbingan wahyu dan petunjuk akan bodoh sebaliknya jika dengan bimbingan wahyu maka sebaliknya.

8. (Qs. Al-Anfal 1) – RAMPASAN PERANG

 

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ ۖ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِين

Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman”.

Kadang kala jama’ah memang harta itu membuat silaturahim kita terputus. berkenaan Rampasan perang pernah Nabi sholallahu’alaihi wa sallam pulang dari suatu peperangan dan memberikan harta rempasan.

Setelah memutuskan untuk mengakhiri pengepungan benteng Thaif, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke Ji’ranah tempat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyimpan ghanimah (harta rampasan) perang Hunain sebelum berangkat mengepung Thaif. Setibanya di Ji’ranah, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak langsung membagi harta rampasan perang tersebut kepada para Shahabat yang ikut dalam perang Hunain kecuali perak yang jumlahnya tidak tidak terlalu banyak. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja menunda pembagian ghanimah ini beberapa hari, dengan harapan akan ada utusan dari kabilah Hawazin yang datang untuk menyatakan taubat dan menerima Islam. Namun ternyata tidak ada yang datang. Akhirnya ghanîmah dibagikan kepada kaum muhajirin dan para tawanan yang dibebaskan, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian sedikitpun.

Pembagian ghanimah seperti ini memantik kemarahan sebagian kaum Anshar sehingga terucap kalimat yang tidak selayaknya diarahkan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ketika berita tentang kaum Anshar dan ucapan sebagian mereka terdengar oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan mereka dan bersabda kepada mereka:

يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، مَا حَدِيثٌ بَلَغَنِي عَنْكُمْ؟ فَسَكَتُوا، فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، أَمَا تَرْضَوْنَ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالدُّنْيَا وَتَذْهَبُونَ بِمُحَمَّدٍ تَحُوزُونَهُ إِلَى بُيُوتِكُمْ؟ قَالُوا: بَلَى، يَا رَسُولَ اللهِ، رَضِينَا، قَالَ: فَقَالَ: لَوْ سَلَكَ النَّاسُ وَادِيًا، وَسَلَكَتْ الْأَنْصَارُ شِعْبًا، لَأَخَذْتُ شِعْبَ الْأَنْصَارِ

Wahai kaum Anshar! Pembicaraan apa ini yang sampai kepadaku dari kalian?! Kaum Anshar terdiam (tidak mampu menjawab). Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya, “Wahai kaum Anshar! Apakah kalian tidak rela orang-orang itu pergi dengan membawa dunia sementara kalian pulang membawa serta nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke rumah-rumah kalian?” Mereka menjawab, “Tentu kami rela, wahai Rasûlullâh!” Perawi mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia menempuh satu lembah sementara kaum Anshar menempuh syi’b (jalan atau celah diantara dua pegunungan), maka pasti saya akan mengikuti jalan yang ditempuh kaum Anshar.”[2]

Dalam riwayat lain, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا تَرْضَوْنَ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالشَّاءِ وَالْإِبِلِ، وَتَذْهَبُونَ بِرَسُولِ اللهِ إِلَى رِحَالِكُمْ؟ الْأَنْصَارُ شِعَارٌ وَالنَّاسُ دِثَارٌ، وَلَوْلَا الْهِجْرَةُ لَكُنْتُ امْرَأً مِنَ الْأَنْصَارِ،

Apakah kalian tidak rela orang-orang itu pergi dengan membawa kambing dan unta sementara kalian pergi dengan membawa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke rumah kalian? (Bagiku) kaum Anshar itu ibarat pakaian yang menempel di badan sementara orang-orang itu ibarat selimut. Seandainya bukan karena hijrah, tentu termasuk kaum Anshar.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada kaum Anshar secara khusus tentang latar belakang kebijaksanaan pembagian ghanîmah kala itu:   

إِنِّي أُعْطِي قَوْمًا أَخَافُ ظَلَعَهُمْ وَجَزَعَهُمْ وَأَكِلُ أَقْوَامًا إِلَى مَا جَعَلَ اللَّهُ فِي قُلُوبِهِمْ مِنْ الْخَيْرِ وَالْغِنَى

Sesungguhnya aku memberikan ghanimah kepada kaum (orang-orang) yang saya khawatirkan hati mereka akan gelisah dan resah serta tidak memberikan sesuatu kepada orang-orang yang Allâh anugerahi kebaikan dan perasaan berkecukupan di hati mereka [3]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنِّي أُعْطِي رِجَالًا حَدِيثٌ عَهْدُهُمْ بِكُفْرٍ

Sesungguhnya aku memberikannya kepada orang-orang yang baru meninggalkan kekufuran [4]

Begitulah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan alasan pembagian harta ghanîmah perang Hunain yang tidak seperti biasanya. Penjelasan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu menyentuh perasaan kaum Anshar, sehingga membuat mereka menangis dan air mata mereka sampai membasahi jenggot mereka. Mereka mengatakan:

رَضِينَا بِرَسُولِ اللَّهِ قَسْمًا وَحَظًّا

Kami rela Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi bagian kami.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan ghanimah kepada mereka yang baru masuk Islam untuk semakin mengokohkan iman mereka dan memupus rasa benci yang selama ini terpendam. Terbukti, setelah pemberian ini, keimanan mereka menjadi semakin kuat dan siap berlaga di medan jihad, kecuali sebagian kecil saja yang tidak berubah. Salah seorang diantara yang mendapatkan bagian itu yaitu Shafwan bin Umayyah menceritakan, “Demi Allah! Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan bagian kepadaku padahal Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling saya benci. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus memberi sampai akhirnya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi orang yang paling aku cinta [5]

Kaum Anshar memahami maksud pembagian yang dilakukan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah mendapatkan penjelasan langsung dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

10. (Qs. Al – Isro 85) TENTANG RUH

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلً

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

11. (Qs. Al Kahfi) (Dzulqurnain)

Dzulqarnain, para ulama berbeda pendapat apakah dia Nabi atau seorang hamba yang salih. Namun yang jelas dia adalah seorang Raja yang memiliki kekuasaan luar biasa, apa saja dia bisa lakukan,

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu” (QS. Al Kahfi: 84).

Ketika itu, di kota Yathrib, iaitu kota yang setelah Nabi berhijrah ke sana dinamakan Madinah, tinggallah sekelompok orang Yahudi yang jumlahnya sangat ramai termasuk Ahlul Kitab kerana mereka memiliki Kitab Taurat. Akan tetapi Kitab Taurat yang ada ditangan mereka telah mengalami beberapa perubahan. Jadi, ianya tidak sempurna seperti sewaktu diturunkan kepada Nabi Musa AS. Kaum kafir Quraisy mengirim utusan supaya menemui para pendeta Yahudi di Yathrib. Utusan itu menceritakan tentang munculnya Muhammad sebagai nabi dan utusan Allah swt. Utusan itu juga menceritakan bahawa Muhammad saw mengaku menerima wahyu dari Allah swt. Utusan kafir Quraisy itu berkata kepada pendeta Yahudi, “kamu adalah pemuka bangsa Yahudi. Kamu adalah Ahlul Kitab yang pertama. Kamu memiliki ilmu tentang kenabian yang tidak kami miliki. Maka beritahulah kepada kami, apakah pendapat kamu tentang Muhammad?” Seorang pendeta Yahudi menjawab. “cubalah kamu tanyakan tiga perkara kepadanya. Tanyakanlah tentang sekumpulan pemuda yang hidup pada zaman dahulu dan memiliki kisah yang menakjubkan. Lalu, tanyakan kepadanya tentang lelaki gagah perkasa yang mengembara ke timur dan ke barat. Tanyakan juga kepadanya tentang roh, apakah roh itu? Jika dia dapat menjelaskan yang pertama dan yang kedua, serta tidak menjelaskan yang ketiga, bererti dia benar-benar adalah seorang Nabi.” Utusan Quraisy itu pun kembali ke Mekah. Apabila sampai, mereka mengkabarkan ucapan pendeta Yahudi pada pemuka kaum kafir Quraisy. Kemudian mereka sama-sama menguji Rasulullah saw dengan tiga pertanyaan itu. Untuk menjawab tiga soalan itu, Allah swt menurunkan surah al-Kahfi.
Dengan surah Kahfi itu, beliau menjawab tiga pertanyaan dengan tepat. Soalan pertama dijawab dengan cerita tentang Ashabul Kahfi, sekumpulan anak muda yang memasuki gua kerana melarikan diri dari dikejar raja yang zalim, bengis, lagi kejam. Anak-anak muda itu disertai seekor anjing. Mereka tertidur dalam gua lebih daripada tiga ratus tahun. Ketika bangun, mereka mendapati negeri mereka telah berubah. Semua orang mengetahui kisah mereka, berasa takjub. Rasulullah menjelaskan kisah Ashabul Kahfi itu secara ringkas dan jelas. Soalan kedua,beliau jawab dengan kisah Zulqarnain.
Seorang raja perkasa yang menundukkan ramai raja dan mengelilingi dunia timur dan barat. Sehingga akhirnya, Zulqarnian bertemu dengan kaum yang memintanya supaya membina tembok pemisah di antara mereka dengan Ya’juj dan Ma’juj, agar mereka aman dari kejahatan Ya’juj dan Ma’juj, hingga ke akhir kisah. Soalan Ketiga,adapun pertanyaan mereka yang ketiga iaitu tentang Roh, maka Rasulullah saw menjawabnya dengan firman Allah swt dalam surah al-Isra’ (17) ayat 85, ‘
Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Roh. Katakanlah, Roh itu termasuk urusan Tuhanku dan aku tidak diberi ilmu kecuali sedikit.’
12. QS. TOHA 105 – (TENTANG GUNUNG)
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan
Mohon maaf pembahasan ke 13 Penulis tidak mencantumkan karena terlewat dari pembahasan. Jazakumullahu khoir barakallahu fiykuma.

______________

REFERENSI

[2] HR. Al-Bukhâri, al-Fath, 16/170. no. hadits 4331 dan Imam Muslim, 2/736, no. 1059

[3] HR. Al-Bukhâri, al-Fath, 12/236, no. 3145

[4] HR. Al-Bukhâri, al-Fath, 12/238. no. hadits 3148 dan Imam Muslim, 2/733

[5] HR. Imam Muslim, no. Hadits 2313

Ditulis oleh Yoga Pratama

Yuk Tunggu Artikel Islami Selanjutnya yang InsyaaAllah bermanfaat, dan jangan lupa agar di sebarluaskan.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, hadits dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Hanya di
Ilmu Sebelum Beramal-
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑