UST. SUBHAN BAWAZIER – MENJEMPUT TAUBAT


👤 UST SUBHAN BAWAZIER –  (MENJEMPUT TAUBAT)
📆 28 MEI 2017 / 2 RAMADHAN 1438H
🕌 Masjid Agung Al-Azhar – Jakarta Selatan

______________________

Bismillahi…

Menjemput Taubat, bukan hanya ucapan Istighfar yang kita ucapkan saja, tapi bagaimana diri ini istiqomah dalam ttaubat itu. Taubat gausah tunggu tua, artinya kalau masa muda ajah bisa taubat kenapa harus di tunda. Emang situ ngejamin hidup dimasa tua?

Menjemput Taubat diantara yang kita fahami yaitu,

  • Jemput Taubat dengan Alasan bahwa Allah Maha Melihat

Sebagaimana orang berpuasa, dia harus meyakini bahwa dimanapun kau berada sampai di kolong mejapun jika engkau ingin membatalkan puasa diam diam, orang tuamu tidak melihatnya tapi Allah melihatmu. Sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman

أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَلَّامُ الْغُيُوب

“Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib.”

Sehingga ada orang Ihsan yaitu dia yang PATUH (AKAN PERINTAH ALAH DAN MENJAUHI LARANGANYA), BENAR (DALAM BERAGAMA SESUAI QURAN DAN SUNNAH).

Kalau kita ngomongin orang berpuasa, bukan hanya manusia ajah yang berpuasa tapi hewan pun berpuasa, lihat bagaimana Ulat berpuasa yang awalnya dia rakus untuk makan tapi lihat bagaimana kondisi dia ketika seusai berpuasa ia berubah menjadi kupu kupu yang indah di pandang,

Mangkanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats(Tidak mengatakan perkataan yg menimbulkan syahwat kecuali kepada muhrim (istri)). Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu (perbuatan sia sia), katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.”[1] Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.[2] Sedangkan rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita[3] atau dapat pula bermakna kata-kata kotor.[4]

Dan kalau kita ngomongin taubat sudah tentu setiap orang punya Dosa, kita katakan mustahil ada orang yang tidak punya dosa maka niscaya Allah akan musnahkan manusia, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”[5]

dan diantara keutamaan yang besar dari puasa adalah hanya untuk Allah saja\

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ

“Seluruh amalan anak Adam untuk mereka sendiri, kecuali puasa. Sungguh, ibadah puasa itu untuk-Ku. Akulah yang langsung akan memberikan imbalannya. Puasa adalah perisai.”[Shahïh al-Bukhâri: 1904]

“Kami katakan bahwa jika fajar terbit sedangkan makanan masih ada di mulut, maka hendaklah dimuntahkan dan ia boleh teruskan puasanya. Jika ia tetap menelannya padahal ia yakin telah masuk fajar, maka batallah puasanya. Permasalah ini sama sekali tidak ada perselisihan pendapat di antara para ulama. Dalil dalam masalah ini adalah hadits Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ بِلالا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ ، فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ

Sungguh Bilal mengumandangkan adzan di malam hari. Tetaplah kalian makan dan minum sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.” (HR. Bukhari dan Muslim. Dalam kitab Shahih terdapat beberapa hadits lainnya yang semakna)

Adapun hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

Jika salah seorang di antara kalian mendengar adzan sedangkan bejana (sendok, pen) ada di tangan kalian, maka janganlah ia letakkan hingga ia menunaikan hajatnya.” Dalam riwayat lain disebutkan,

وكان المؤذن يؤذن إذا بزغ الفجر

Sampai muadzin mengumandangkan adzan ketika terbit fajar.” Al Hakim Abu ‘Abdillah meriwayatkan riwayat yang pertama. Al Hakim katakan bahwa hadits ini shahih sesuai dengan syarat Muslim. Kedua riwayat tadi dikeluarkan pula oleh Al Baihaqi. Kemudian Al Baihaqi katakan, “Jika hadits tersebut shahih, maka mayoritas ulama memahaminya bahwa adzan yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah adzan sebelum terbit fajar shubuh, yaitu maksudnya ketika itu masih boleh minum karena waktu itu adalah beberapa saat sebelum masuk shubuh. Sedangkan maksud hadits “ketika terbit fajar” bisa dipahami bahwa hadits tersebut bukan perkataan Abu Hurairah, atau bisa jadi pula yang dimaksudkan adalah adzan kedua. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika salah seorang di antara kalian mendengar adzan sedangkan bejana (sendok, pen) ada di tangan kalian”, yang dimaksud adalah ketika mendengar adzan pertama. Dari sini jadilah ada kecocokan antara hadits Ibnu ‘Umar dan hadits ‘Aisyah.” Dari sini, sinkronlah antara hadits-hadits yang ada. Wabiilahit taufiq, wallahu a’lam.”[6]

  • JEMPUT TAUBAT KARENA ALLAH MAHA AGUNG

Yakinilah Allah maha agung sebagaimana firman Allah

“Dan niscaya Allah akan menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Perkasa.” (QS. AlHajj: 40)

Keagungan Allah, Keperkasaan Allah itu adalah kesempurnaan Allah, kepadanya kita memohon segala hal. bahkan dari keagungan Allah, sehingga dalam hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.(muttafaq ‘alaihi)

Kalau kita ingin kuat puasa, lihat hayo bagaimana Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam berbuka, dan lihat bagaimana Rosulullah bersahur.

KEUTAMAAN SAHUR

SAHUR ADALAH KEBERKAHAN

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“تَسَحَّرُوْا! فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ.”

“Bersahurlah kalian karena dalam bersahur tersebut terdapat keberkahan.”[7]

PEMBEDA ANTARA AHLUL KITAB DENGAN MUSLIM

“فَصْلٌ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ، أَكْلَةُ السَّحَرِ.”
”Pembeda antara puasa kita dengan puasanya ahlul Kitab adalah makan Sahur.”[8]

JANGAN TINGGALKAN SAHUR WALAU SETEGUK

Abu Said al-Khudri Radhiyallahu anhu telah meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

السَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلاَ تَدْعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يُجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحَّرِيْنَ.”

“Makan Sahur adalah keberkahan, maka janganlah kalian meninggalkannya, walaupun hanya berupa seteguk air, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Malaikat-Nya bershalawat bagi orang-orang yang bersahur.”[9]

Dalam kitab Fat-hul Baari, Ibnu Hajjar berkata: “(Pendapat) yang terbaik adalah, bahwa keberkahan dalam makan Sahur dapat diperoleh dari banyak segi, yaitu mengikuti Sunnah dan menyalahi ahlul Kitab, taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beribadah, menambah semangat beramal dan mencegah akhlak yang buruk yang diakibatkan oleh kelaparan, menjadi sebab bersedekah kepada siapa yang meminta saat itu atau berkumpul bersama dengannya untuk makan, membuatnya berdzikir, berdo’a pada waktu-waktu dikabulkannya do’a, memperbaiki niat puasa bagi mereka yang melalaikannya sebelum tidur, Ibnu Daqiqil ‘Ied [16] berkata, ‘Keberkahan ini dapat juga berlaku terhadap hal-hal ukhrawi karena dengan menegakkan Sunnah, maka akan diganjar dan bertambahnya Sunnah (yang dilakukan), begitu pula bisa saja berlaku terhadap hal-hal duniawi, seperti kekuatan tubuh untuk berpuasa dan juga memudahkan dirinya tanpa ada bahaya bagi orang yang melaku-kan puasa.’”

Udah deh gausah neko neko di bulan Ramadhan kita udah diberikan banyak keutamaan diantara keutamaan puasa sehari dijalan Allah lihat hadistnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

ما من عبد يصوم يوما في سبيل الله إلا باعد الله بذالك وجهه عن النار سبعين خريفا

“Tidaklah seorang hamba yang berpuasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksud sabda Rasulullah “70 musim” adalah perjalanan 70 tahun, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (6/48)

  • JEMPUT TAUBAT DENGAN INGAT NIKMAT ALLAH

وَقَالَ مُوسَى إِن تَكْفُرُواْ أَنتُمْ وَمَن فِي الأَرْضِ جَمِيعاً فَإِنَّ اللّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ

Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (ni’mat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS: Ibrahim: 8)

Nikmat disyukuri, Dulu kita kepengen punya istri, eh udah punya istri malah berantem mulu

Dulu kita pengen punya anak pas udah punya anak di jewerin mulu

Dulu kita minta di sampaikan di bulan ramadhan pas udah dibulan ramadhan ngaji ajah ogah ogahan.

Wal Iyadzubillah…

ALLAH Masukan kita di bulan Ramadhan yang didalamnya pintu syurga di buka , pintu neraka di tutup, setan di belenggu serta kebaikan Allah lipat gandakan hingga 700x lipat. Ingat itu cuma di bulan Ramadhan Loh.

Itu sebabnya islam bersifat Rohmatal lil ‘alamin, lihat bagaimana ketika dibulan puasa yang penuh panas terik matahari, lelah dan hilangnya tenaga namun dimakkah orang thowaf semakin banyak. ini kalau bukan karena keimanan tidak akan tergerak hati mereka untuk melakukan ibadah yang Allah lipatgandakan hanya dibulan ramadhan, ini menunjukan kemuliaanya dibublan Ramadhan

  • MENJEMPUT TAUBAT DENGAN SABAR

وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ ۗ أَلَيْسَ اللَّهُ بِعَزِيزٍ ذِي انْتِقَام

“Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?” (Qs. Az Zumar 37)

Kalau hati sudah Allah beri petunjuk siapakah yang dapat menghalanginya, kalau Umar sudah Allah luluhkan hatinya, kalau Kholid ibn Walid Allah luluhkan hatinya kalau saja Allah Subhanahu wa Ta’ala Allah balas walau sekecil apapun perbuatan manusia apalagi dengan yang perbuatan dan amal yang besar sudah tentu Allah akan balas sebagaimana PUASA yang Allah balas sendiri?

___________________

REFERENSI:

[1] HR. Ibnu Khuzaimah 3/242. Al A’zhomi mengatakan bahwa sanad hadits tersebut shahih.

[2] Perkataan Al Akhfasy, dinukil dari Fathul Bari, 2/414.

[3] Perkataan Al Azhari, dinukil dari Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/114, 9/119.

[4] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 9/119.

[5]. Hadits hasan riwayat Ahmad (III/198), At Tirmidzi (no. 2499), Ibnu Majah (no. 4251) dan Al Hakim (IV/244). Lihat Shahih Jami’ush Shaghir (no. 4515), dari sahabat Anas.
[6] Al Majmu’, Yahya bin Syarf An Nawawi, Mawqi’ Ya’sub, 6/312.
[7] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya (II/232) Kitaabush Shaum bab Barakatus Suhuur min Ghairi Iijaab liannan Nabi j wa Ash-haabuhu Waashalu wa lam Yudzkaris Suhuur juga Muslim dalam Shahihnya (II/770) Kitaabush Shiyaam bab Fadhlus Suhuur, dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu dan dalam Shahih Ibni Khuzaimah (III/213).
[8] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (II/771) kitab ash-Shiyaam bab Fadhlus Suhuur dari ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu anhu.
[9]Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (III/12-44), al-Mundziri berkata dalam at-Targhiib wat-Tarhiib (II/139): “Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang kuat.” Al-Haitsami berkata dalam Majmaa’-uz Zawaa-id (III/150): “Diriwayatkan oleh Ahmad dan di dalamnya ada perawi yang bernama Rafa‘ah, aku tidak tahu ada yang menguatkannya. Dia dan tidak pula ada yang melemahkannya, sedangkan para perawi yang lain adalah shahih.” Diriwayatkan juga oleh Ibnu Hibban dalam Shahihnya, al-Ihsaan bi Tartiibi Shahih Ibni Hibban (V/194). Lafazh terakhir dari hadits, إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتِهِ adalah dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma.

Ditulis oleh Yoga Pratama

Yuk Tunggu Artikel Islami Selanjutnya yang InsyaaAllah bermanfaat, dan jangan lupa agar di sebarluaskan.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, hadits dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Hanya di
Ilmu Sebelum Beramal-
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑