Notulensi Kajian Sunnah Bersama Ust Yudi Kurnia – Tema ( Kepemimpinan Sahabat Umar ibn Khotob )


NOTULENSI KAJIAN

👤 UST YUDI KURNIA –  (KEPEMIMPINAN SAHABAT UMAR BIN KHATTAB)
📆 Jum’at, 8 Juli 2017 M  / 15 Syawal 1438 H
🕌 Masjid Imam Syafi’i Jl Raden Saleh Gg Persahabatan, Depan Studio Alam TVRI – Depok
______________________

Bismillahi…

MUKADDIMAH

Keutamaan Para Sahabat Rodhiyallahu anhum ajma’in

[1] Sebaik baik zaman adalah zaman sahabat nabi

bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِينَهُ وَيَمِينُهُ شَهَادَتَهُ

“Sebaik-baik manusia ialah pada zamanku, kemudian zaman berikutnya, dan kemudian zaman berikutnya. Lalu akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpah, dan sumpahnya mendahului persaksian” [HR.Bukhori-Muslim]

[2] Sebaik baik Infak adalah infaknya sahabat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Janganlah mecela sahabatku! Janganlah mencela sahabatku! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, meskipun kalian menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan dapat menyamai satu mud sedekah mereka; tidak juga separuhnya” [HR.Muslim]

[3] Sahabat Nabi adalah sebaik baik pilihan Allah

‘Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوْبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى دِيْنِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ

“Sesungguhnya Allah memperhatikan hati para hamba-Nya. Allah mendapati hati Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hati yang paling baik, sehingga Allah memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya sebagai pembawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati para hamba-Nya setelah hati Muhammad. Allah mendapati hati para sahabat beliau adalah hati yang paling baik. Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka sebagai para pendukung Nabi-Nya yang berperang demi membela agama-Nya. Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin (para sahabat), pasti baik di sisi Allah. Apa yang dipandang buruk oleh mereka, pasti buruk di sisi Allah.”(Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad, I/379, no. 3600. Syaikh Ahmad Syakir mengatakan bahwa sanadnya shohih).

POINT – POINT PEMBAHASAN

Nama & Nasab Umar bin Khattab

Beliau adalah Abu Hafsh Umar al-Faruq bin Khattab bin Nufail bin Abdil Uzza bin Adi bin Ka’ab bin Lu’aiy bin Ghalib al-Qurasy. Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pada kakek keempat yaitu Ka’ab bin lu’aiy bin Ghalib. Beliau digelari “al-Faruq” karena beliaulah yang menampakkan Islam di Mekah, dan karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menampakkan secara jelas antara kekufuran dan kebatilan. Sahabat Ibnu Abbas mengatakan, “Orang pertama yang berani menampakkan Islam di makkah adalah Umar bin Khattab.”

Ciri – Ciri dan Fisik Umar bin Khattab

Beliau dilahirkan tiga belas tahun setelah Tahun Gajah. Beliau bertipe keras dan pemberani, berkulit putih, berbadan tinggi tegap, bertubuh besar dan kuat, apabila berbicara didengar dan apabila memukul menyakitkan. Di masa jahiliah, ia dididik oleh sang ayah, al-Khattab, dengan didikan yang keras. Ia dibebani untuk menggembala untanya setiap hari. Hari-hari yang melelahkan dan memberatkan sering ia lalu, dan ia pun sering mendapat pukulan bila pekerjaannya tersebut ada yang kurang. Hal itu semakin menambah kekerasan hati Umar.

Keislaman Umar bin Khattab

[1] Kisah Masuk Islamnya Umar bin Khattab

Sementara itu, terdapat sebuah kisah yang masyhur di tengah kaum Muslimin berkaitan dengan faktor-faktor yang telah menggugah ‘Umar bin Khaththab masuk Islam. Kisah itu berawal saat ia sedang dalam perjalanan menuju Muhammad n untuk menyiksanya. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan seseorang yang mengetahui maksud ‘Umar. Orang ini heran terhadap ‘Umar yang tidak mengetahui keislaman saudara perempuannya dan suaminya. Mendengar kabar ini, ‘Umar pun marah dan kemudian merubah tujuannya. Dia pun bergegas menuju rumah saudarinya. Kemudian terjadilah dialog. ‘Umar bin Khaththab meminta apa yang sedang dibaca oleh adiknya. Adiknya pun memberikannya setelah meminta ‘Umar untuk mandi. Dia pun mandi, kemudian bacaan itu pun diberikan, dan ia pun membacanya.

Kisah ini tidak dibawakan dengan sanad shahih yang bisa diterima oleh para ulama ahli hadits, meskipun sebagian dari kisah ini ada yang memiliki sanad hasan. Kisah ini didha’ifkan oleh Washiyullah, Hammam, Abu Abu Shu’ailik dan lain-lain.

Riwayat Shohih 

Dalam riwayat yang dibawakan oleh Syaikh Al Albani dalam kitab sirah beliau membawakan perkataan Ummu Abdillah : “Kemudian (dia) mendo’akan ‘semoga Allah menemani perjalanan kalian’, dan aku melihat kelemahlembutan ‘Umar yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Kemudian Umar pergi. Dan menurutku, yang membuatnya sedih ialah kepergian kami”.[1]

Setelah membawakan riwayat ini, Syaikh al-Albani t berkata: “Riwayat ini membantah anggapan orang yang mengatakan bahwa Umar masuk Islam pada urutan ke empat puluh, karena kaum Muslimin yang hijrah ke Habasyah lebih dari delapan puluh orang”.[2]

Dalam riwayat ini terdapat bukti bahwa fithrah yang salim (selamat) yang terdapat dalam diri ‘Umar tertutup tabir jahiliyyah, hingga tiba waktunya tabir jahiliyyah itu tersingkap, dan ia pun masuk Islam. Kekerasan ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu ini berubah, dari kekerasan dalam kebathilan berubah menjadi ketegasan dalam al haq.

Keterkaitan dengan pernyataan keislamannya, Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma menceritakan:

“Saat ‘Umar masuk Islam, ia pun berseru: ‘Siapakan orang Quraisy yang paling cepat untuk menyebarluaskan berita?’.”

Maka dijawab: “Jamil bin Ma’mar al-Jumahi,” maka ‘Umar bin Khaththab pun mendatangi Jamil.

Selanjutnya ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma menceritakan: “Aku mengikuti langkahnya dan memperhatikan apa yang dikerjakannya. Saat itu aku masih kanak-kanak dan sudah memahami semua yang aku lihat. Ketika sampai di rumah Jamil, ia berseru: ‘Wahai, Jamil! Tahukah engkau bahwa aku telah masuk Islam. Aku telah masuk ke dalam agama yang dibawa Muhammad?!’.”

‘Abdullah berkata: “Demi Allah, ‘Umar tidak sempat mengulangi perkataannya itu. Orang itu sudah berdiri menarik selendangnya dan diikuti oleh Umar. Saya juga mengikutinya. Ketika sudah berdiri di depan masjid, ia pun berteriak sekeras-kerasnya. Sementara itu, orang-orang kafir Quraisy sedang melakukan pertemuan di sekitar Ka’bah, Jamil berseru: ‘Wahai, orang-orang Quraisy! Ketahuilah, sesungguhnya Ibnul-Khatthab telah murtad’.”

Adapun ‘Umar yang berada di belakangnya segera menyahut: “Dia bohong. Namun (yang benar) aku telah masuk Islam. Aku bersaksi laa ilaaha illallah dan Muhammad itu utusan Allah”.

Begitu mendengar ucapan ini, maka orang-orang Quraisy pun bangkit menyerangnya. Dan Umar Radhiyallahu anhu terus melakukan perlawanan sampai matahari tegak di atas mereka. ‘Umar Radhiyallahu anhu sudah merasa letih dan lelah. Tetapi mereka terus melakukan penyerangan kepadanya. Saat kondisi kritis seperti ini, ada orang tua dari kaum Quraisy berkata: “Mengapa dengan kalian?”

Mereka menjawab,”Umar telah murtad.”

Orang tua itu pun berseru: “Apa? (Dia) adalah orang yang telah menentukan pilihan untuk dirinya. Apa keinginan kalian? Apakah kalian mengira Bani ‘Adiy akan membiarkan kalian berbuat seperti ini? Tinggalkan orang ini!”

Pengaruh Keislaman Umar

Setelah Umar Masuk Islam semakin gentarlah para Kaum Quroisy dan Islam menjadi jaya dan kuat sebagaimana Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, beliau Radhiyallahu anhu berkata:

مَازِلْنَا أَعِزَّةً مُنْذُ أَسْلَمَ عُمَرُ

Sejak ‘Umar bin Khaththab masuk Islam, kami senantiasa memiliki ‘izzah (rasa bangga).

Begitu pula dengan para sahabat, ada yang semakin mantap dan kuat memeluk Islam setelah ‘Umar masuk dalam barisan Islam, sebagaimana riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tentang perkataan sa’id bin Zaid suami dari saudari Umar yaitu Fathimah.

Penyebab Islamnya Umar bin Khattab

[1] Kekuasaan Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala maha mampu atas segala sesuatu. Allah Subhanahu wa Ta’ala maha mampu menghidupkan bumi yang tandus menjadi hijau dan subur, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala maha mampu menghidupkan hati yang keras laksana batu menjadi lembut dan sangat perasa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللهِ وَمَانَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلاَيَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ اْلأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ {16} اعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يُحْىِ اْلأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ اْلأَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ {17}

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menejlaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.” (QS. Al-Hadid: 16-17)

[2] Doa Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam

Suatu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Ya Allah, muliakan Islam dengan salah satu dari dua orang yang engkau cintai yaitu Abu jahal bin Hisyam atau Umar bin Khattabb.” Maka yang lebih Allah cintai dari keduanya adalah Umar bin Khattab.(Lihat Shahih Sunan Ibnu Hibban 12/305)

[3] Karena Mendengar Kalam Allah [Al-Qur’an]

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Di antara yang mendorong Umar masuk Islam adalah apa yang ia dengar di rumah saudarinya, Fathimah, dari ayat-ayat Alquran.” (Fathul Bari 7/176)

Setelah keislaman Umar, kemuliaan dan kekuatan Islam semakin bertambah. Sahabat Ibnu Mas’ud mengatakan, “Kami senantiasa menjadi mulia semenjak Islamnya Umar.” Beliau juga mengatakan, “Aku memandang, tidaklah kami dapat shalat di baitullah kecuali setelah Islamnya Umar. Setelah Umar masuk Islam ia memerangi kaum musyrikin hingga mereka membiarkan kami mengerjakan shalat.” (Al-Mu’jamul Kabir, 9:165)

KEUTAMAAN UMAR BIN KHATTAB

[1] Beliau termasuk sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang dijamin masuk surga.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tatkala aku tertidur, aku melihat diriku berada di surga, tiba-tiba aku melihat ada seorang wanita sedang berwudhu di samping sebuah istana. Aku menanyakan milik siapakah istana itu, lalu dikatakan, ‘Milik Umar.’ Maka aku melihat kecemburuan pada diri Umar hingga aku pun pergi meninggalkannya.” Kemudian Umar menangis seraya mengatakan, “Pantaskah aku cemburu kepadamu wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari, no.3070)

[2] Beliau sering dipuji dan dido’akan kebaikan Rasululalh shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Seandainya ada nabi setelahku maka ia adalah Umar bin Khattab.” (HR. Tirmidzi, no.3686, lihat ash-Shahihah, no.327)

Beliau juga bersabda, “Sungguh ada dari umat-umat sebelum kalian muhaddatsun (orang-orang yang diberi ilham), dan apabila ada pada umatku ini maka ia adalah Umar.” (HR. Al-Bukhari, no.3486)

[3] Beliau adalah orang yang ditakuti oleh setan.

Sa’ad bin Abi Waqqash pernah bercerita,

Suatu hari Umar pernah meminta izin untuk masuk dan bertemu dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan di sisi belaiu ada para wanita Quraisy yang sedang berbicara dan mengangkat suara lebih tinggi dari suara Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala Umar meminta izin untuk masuk, maka segera para wanita itu buru-buru memasang hijab, setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberi izin maka masuklah Umar dan terlihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tertawa, maka Umar berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membuatmu tertawa, wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam?” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Saya heran melihat tingkah para wanita itu, tatkala mereka mendengar suaramu lantas buru-buru mereka memasang hijab.” Maka Umar berkata, “Bahkan engkau lebih berhak untuk disegani oleh mereka, wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu Umar mengatakan kepada para wanita tersebut, “Wahai para musuh jiwa-jiwa kalian, apakah kalian segan kepadaku sedangkan kalian tidak segan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam??!” Mereka menjawab, “Iya, karena engkau lebih keras dibandingkan dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,  “Wahai Ibnul Khattab, demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah setan bertemu dengannmu  di suatu jalan melainkan ia akan mengambil jalan yang lain dari jalanmu.” (HR. Bukhari, no.3480)

[4] Beliau sering mencocoki kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam beberapa kejadian.

Umar adalah orang yang apabila melihat sesuatu di dalam mimpinya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat-Nya membenarkan apa yang ia lihat. Sahabat Umar pernah bercerita, “Aku mencocoki perkara Rabbku dalam tiga perkara: (yang pertama) yaitu tatkala aku mengatakan wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam hendaklah maqom Ibrahim itu dijadikan tempat shalat, maka turunlah ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِذْجَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

Dan jadikanlah sebahagian maqom Ibrahim sebagai tempat shalat.” (QS Al-Baqarah: 125)

Dan (yang kedua) tentang ayat hijab tatkala aku mengatakan: ‘Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam seandainya engkau perintah istri-istrimu memakai hijab, karena yang berbicara kepada mereka adalah orang yang baik maupun yang fajir’, maka turunlah ayat hijab. Dan (yang ketiga) para istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkumpul karena saling cemburu kepada beliau, maka aku katakan kepada mereka (para istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam) semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menceraikan kalian dan menggantikan untuk nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam istri-istri yang lebih baik dari kalian, maka turunlah ayat semisal dengna itu.” (HR. Bukhari, no.393)

[5] Keutamaan Umar bin Khattab yang lain

Merupakan wujud ketakwaan seorang muslim adalah apabila dalam beribadah ia menggabungkan antara khouf (takut) dan roja (berharap).

Umar bin Khattab pernah mengatakan, “Seandainya seorang penyeru dari langit memanggil, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan masuk surga seluruhnya kecuali satu orang’, maka sungguh aku takut bila itu adalah diriku, dan seandainya sang penyeru itu mengatakan, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kalian semua akan masuk neraka kecuali seorang’, maka aku berharap dia adalah diriku.” (Ash-Shabah: 154)

Umar juga pernah mengatakan, “Setiap hari telah dikatakan, telah meninggal dunia fulan dan fulan, dan pasti suatu hari kelak akan dikatakan telah meninggal dunia Umar.”

Sungguh telah benar apa yang Umar katakan, karena setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, dan Umar pun mengetahui secara yakin bahwa kelak ia akan dibunuh  dan syahid di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan kabar gembira tersebut jauh-jauh hari sebelumnya.

Satu hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam naik ke Bukit Uhud, dan bersama beliau Abu Bakr, Umar, dan Utsman radhiallahu’anhum. Tiba-tiba Uhud bergetar, lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menghentakkan kakinya seraya mengatakan, “Tenanglah, wahai Uhud, karena di atasmu ada seorang nabi, shiddiq, dan dua orang syahid.” (HR. Bukhari: 3472)

Sungguh apa yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam terjadi. Umar meninggal dunia karena dibunuh oleh seorang budak majusi, dialah Abu Lu’lu’ah.

Abu Lu’lu’ah adalah seorang budak milik Mughirah bin Syu’bah. Ia memiliki keahlian membuat senjata, dan setiap harinya Mughirah membebankan kepadanya sebanyak empat dirham. Suatu hari Abu Lu’lu’ah bertemu dengan Umar seraya mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, sungguh majikanku telah memberiku beban yang berat, maka bicaralah engkau kepadanya.” Namun, Umar mengatakan, “Berbuat baiklah kepada majikanmu.” Padahal sebenarnya Umar pun berniat untuk datang menmui Mughirah dan berbicara kepadanya.

Karena jawaban Umar tersebut budak itu pun marah. Dia bergumam, “Keadilan Umar merata kepada semua manusia, tetapi tidak kepadaku.” Ia berencana untuk membunuh Umar. Maka ia pun membuat anak tombak dan pada suatu hari di waktu subuh tatkala Umar berkata kepada para sahabat, “Rapatkan shaf-shaf kalain”, sebelum ia bertakbir, tiba-tiba Abu Lu’lu’ah datang dan mengayunkan tombaknya hingga Umar terjatuh. Lalu Abu Lu’lu’ah pun menusuk para sahabt secara membabi buta hingga berhasil melukai tiga belas sahabat, enam di antaranya meninggal dunia. Kemudian Umar dibawa ke rumahnya dan ketika matahari sudah hampir terbit Abdurrahman bin Auf mengimani manusia dengan membaca dua surat yang terpendek.

Umar diberi minum perasaan kurma namun keluar lagi dari arah lukanya, lalu diminumkan susu kepadanya namun susu iu juga keluar dari lukanya, hingga akhirnya ia pun meninggal dunia.” (Siyar A’lam an-Nubala’, 2:527)

BANTAHAN

[1] Dikalangan Masyarakat banyak sekali yang sudah mengaggap bahwa Umar bin Khattab pernah mengubur anak putrinya, namun kami bantah dengan Ucapan Syaikh Al- Fawzan Hafizhohullah ta’ala  “Bahwa cerita yang tersebar ini tidak lain berasal dari Kaum Syi’ah Rofidhah dan tidaklah kita cek riwayat yang membawakan hadist demikian melainkan ada periwayat bernama jabir dimana ia telah di camkan para ulama sebagai orang yang catat dalam lisanya dan berdusta dalam segala ucapanya.” 

[2] Seandainya, Anak sulung atau yang pertama dikubur dan itu dikalangan wanita maka sudah barang tertentu Hafshah tidak akan hidup sebab Hafshah rodhiyallahu anha lah anak pertama yang dilahirkan dari istri Umar bin Khattab yang bernama Zainab binti Maz’um.

[3] Sehingga dengan demikian kita tidak boleh menyangkal bahwa hal itu ada, seandainya ada riwayat yang shohih maka kami akan menta’ati namun, yang ada tidaklah ada riwayat yang shohih. Dengan demikian kita telah tahu semoga kita selalu dalam bimbingan dan hidayah Allah Subhanahu wa ta’ala

_________________

Foot Note

[1] Shahîhus-Siratin-Nabawiyah, karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni, hlm. 189-190.
[2] Shahîhus-Siratin-Nabawiyah, 189-190.

Penulis : Yoga Pratama

Artikel: http://www.pintuilmuyoga.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑