Notulensi Kajian Sunnah Bersama Ust Sufyan Fuad Baswedan – Tema [Memuliakan Tetangga]


NOTULENSI KAJIAN

👤 Ustadz Sufyan bin Fuad Baswedan –  (Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyah)
📆 Rabu, 11 Syawal 1438 H (5 Juli 2017)
🕌 Masjid Masjid Al-Ukhuwah

Kitab Hadits Arba’in An-Nawawiyah karya Imam An-Nawawi Abu Zakaria

Ini adalah lanjutan pembahasan saat daurah Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyah. Saat daurah membahas 1/3 dari semua hadits yaitu 14 hadits.

===========
Hadits ke-15 (Memuliakan Tetangga)

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ’anhu, bahwa Rasūlullāh ﷺ bersabda,

“Barangsiapa beriman kepada Allaah dan Hari Akhir, hendaknya berkata baik atau diam, barangsiapa beriman kepada Allaah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allaah dan Hari Akhir, hendaknya memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Lafadz yang dinukil oleh beliau adalah dari Imam Muslim.

SEDIKIT TENTANG ABU HURAIRAH

Abu Hurairah (Abdurrahman bin Shakhr) masuk Islam saat tahun 7 Hijriah menurut riwayat yang paling populer.

Rasūlullāh ﷺ meninggal di tahun 11 Hijriah dan itu pun awal-awal.

Jumlah sanad atau jalur bisa banyak, tapi kalau menginduk kepada satu orang (misal kepada Abu Hurairah) maka itu dihitung satu hadits.

Abu Hurairah meriwayatkan sekitar 5700-an hadits. Para ulama menghitungnya dari Musnad Imam Baqi Ad-Dalusi. Hadits dalam Musnad itu disusun berdasarkan Shahabat yang meriwayatkan.

Periwayat hadits terbanyak no. 2 sampai 7 tidak ada yang sampai 3000 hadits.

Kenapa Abu Hurairah dalam waktu 4 tahun kurang bisa menghafal hadits sebanyak itu? Karena beliau memang spesialis dalam menghafal hadits. Beliau tidak kerja yang lain.

Salah satu sebabnya beliau menjadi orang yang mendengar hadits dari Nabi ﷺ adalah beliau melakukannya dengan penuh perjuangan.

Setelah Rasūlullāh ﷺ wafat pun, beliau spesialis dalam menyampaikan hadits.

Beliau wafat pada tahun 57 Hijriah di sekitar 45 tahun setelah Rasūlullāh ﷺ wafat.

SYARAH HADITS KE-15

Dalam hadits ke-15 ini, ada 3 yang akan dibahas. Semua hal tersebut termasuk indikator keimanan.

3 hal ini termasuk kesempurnaan yang wajib. Kalau tidak dilakukan tidak hilang imannya, tapi berdosa.

1. Mengatakan yang baik atau diam kalau tidak bisa.

Hal ini berkaitan langsung dengan hak Allaah.

2. Memuliakan tetangga

Hal ini berkaitan dengan hak sesama manusia.

Apakah ada patokan atau batasan tertentu dalam memuliakan secara syar’i? Tidak ada. Tapi dikembalikan kepada ‘urf atau tradisi setempat.

Adakah batasan tetangga itu berapa rumah dari kita? Tidak ada. Acuannya kembali kepada tradisi.

3. Memuliakan tamu

Tamu ini siapa sih?

Dhayf (tamu khusus) harus ada 2 syarat:
1) dia datang dari luar daerah, dan
2) sengaja mendatangi rumah kita.

Kita wajib memuliakan tamu ini, dan dia punya hak secara syari’at.

Kalau dia tidak datang dari luar kota, namanya apa dong? Namanya zaa-ir (pengunjung).

===========
Hadits ke-16

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ, “Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi ﷺ, “Janganlah engkau marah”. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau, “Janganlah engkau marah”. (HR. Bukhari).

Rasūlullāh ﷺ melarang untuk marah.

Larangan dalam marah ini meliputi 2 hal:

1. Larangan melakukan sebab-sebab yang menyulut kemarahan.

2. Larangan kalau marah ini sudah terjadi yaitu larangan untuk melampiaskan.

Tidak semua marah itu tercela, tapi kebanyakan dari marah itu marah yang tercela.

Marah karena Allaah bisa termasuk ibadah, tapi ia tidak akan diterima kecuali apabila ikhlas. Ketika marah pun harus mengikuti tuntunan Rasūlullāh ﷺ.

===========
Kita ini beribadah harus sesuai apa yang Allaah inginkan, bukan apa yang kita inginkan.

Dan orang-orang yang mendapat pujian dari Allaah adalah para Shahabat. Merekalah orang-orang yang ahli dalam taqwa dan memang mereka orang-orang yang paling bertaqwa.

===========
Hadits ke-17

Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus radhiyallaahu ‘anhu, Rasūlullāh ﷺ bersabda,

“Sesungguhnya Allaah telah menetapkan perbuatan baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka berlakulah baik dalam hal tersebut. Jika kalian menyembelih berlakulah baik dalam hal itu; hendaklah kalian mengasah pisaunya dan menyenangkan hewan sembelihannya.” (HR. Muslim).

Cara eksekusi Islam ini adalah cara eksekusi terbaik. Dibanding cara manapun.

Semua yang dipraktikkan oleh Rasūlullāh ﷺ adalah berdasarkan wahyu. Dan beliau sangat penyayang. Ajaran beliau Rahmatan lil ‘alamin. Kasih sayang bagi alam semesta.

Kalau ingin mengeksekusi, yang paling penting itu hilangkan nyawa secepat-cepatnya.

Bahkan untuk binatang pun kita disuruh untuk menggunakan pisau yang tajam dan nyamankan posisinya.

Kalau dalam hal seperti ini saja perlu ihsan (baik), apalagi hal yang lain.

==========
Ditulis oleh Abu Al-Haq pada sore hari di Masjid Al-Ukhuwah.

Artikel : http://www.pintuilmuyoga.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑