Notulensi Kajian Islam Bersama Ust DR. Syafiq Riza Basalamah, MA – Tema (Memelihara Hidayah)


NOTULENSI KAJIAN SUNNAH

👤 UST DR. SYAFIQ RIZA BASALAMAH, MA –  (MEMELIHARA HIDAYAH )
📆  Senin, 17 Juli 2017 (23 Syawwal 1438H)
🕌 Masjid Nurul Iman Blok M Square Lt 7 – Jakarta Selatan
______________________

Ditulis Langsung oleh -Yoga Pratama- seorang yang penuh kekurangan dan haus ilmu agama sesuai Qur’an & Sunnah,

Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan manusia dari suatu ketiadaan menjadi suatu bentuk wujud nyata nan bagus elok rupa dan parasnya. Sebagaimana yang tercantum dalam firman-Nya :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. [at-Tin/95:4]

دْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Qs. An-Nahl 125]

Hikmah : Ilmu & Beramal Sholih
Pelajaran yang baik : Nasihat yang baik dan kabar gembira serta peringatan

Jangan pernah aman dengan kebaikan, diantara sebabnya, 

[1] Karena Syaithon lebih pintar untuk menyesatkan manusia

“Iblis menjawab : “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf : 16-17)

Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ighosatul Lahfan menjelaskan : “Jalan yang dilalui oleh insan ada empat, (tidak lebih) ia terkadang arah depan dan arah belakang di jalan manapun ia lalui, ia akan menjumpai syaithan mengintai. Bila menempuh jalan ketaatan, ia menjumpai syaithan siap menghalangi atau memperlambat laju jalannya bila ia menempuh jalur kemaksiatan, ia akan menjumpai syaithan siap mendukungnya”.

[2] Karena hati manusia diantara dua jemari Allah, sebagaimana dari,

Nawwas bin Sam’an ia berkata aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tidaklah ada satu hatipun melainkan berada diantara dua jemari dari jari jemari Ar Rahman bila ia kehendaki, Ia akan meneguhkannya dan bila Ia kehendaki, Ia akan menyesatkannya.” (diriwayatkannya oleh Imam Ahmad dalam Al Musnad dan Ibnu Majah. Dishohihkan oleh syaikh Albani)

Beberapa Kisah yang membuktikan hal tersebut sebagai berikut,

[1] Kisah Bal’am Doanya Mustajab namun tergelincir oleh bujukan Dunia

Imam Ibnu Katsir berkata, adapun yang mahsyur mengenai sebab turunnya ayat ini, bahwa ia adalah seorang dari Bani Israil dahulu, sebagaimana dikatakan Ibnu Mas’ud ra, dan ulama-ulama salaf lainnya. Ali bin Abu Thalhah menuturkan dari Ibnu Abbas ra, ia adalah seorang yang berasal dari suatu kota yang dihuni oleh kaum yang gagah perkasa dan kasar-kasar pembawaannya. Ia bernama Bal’am dan ia mengetahui nama Allah yang Mahaagung (al-Ismul Akbar).
Ali bin Abi Thalhah menuturkan dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Musa singgah bersama orang-orang yang menyertainya di kota itu, maka kabilah-kabilah dan kaum di kota itu datang kepada Bal’am seraya mengatakan, “Musa adalah orang yang sangat kuat, dan ia bersama pasukan yang sangat banyak. Jika ia mengalahkan kami, maka ia akan membinasakan kami. Oleh karena itu, berdo’alah kepada Allah agar mengusir Musa berikut orang-orang yang menyertainya dari kami.”

Bal’am mengatakan, “Jika aku berdoa kepada Allah supaya menolak Musa berikut orang-orang yang menyertainya, niscaya lenyaplah dunia dan akhiratku.” Namun, mereka tidak henti-hentinya memohon, hingga Bal’am mendoakan keburukan atas Musa dan kaumnya. Akhirnya Allah menanggalkan kelebihan yang ada pada dirinya. Itulah makna firman Allah; “Kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda).[1]

Firman-Nya: Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah.” Allah mengatakan, “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu.” Yakni, niscaya kami jauhkan dia dari noda dan kotoran duniawi, dengan ayat-ayat yang telah kami berikan kepadanya.[2]
“Tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah.” Yakni cenderung kepada perhiasan dan keindahan kehidupan dunia. Ia hanyut dalam kelezatan dan kenikmatan dunia yang memperdayainya, sebagaimana telah memperdayai kalangan orang-orang yang tidak memiliki akal dan pengetahuan.[3]

Muhammad bin Ishaq bin Yasar menuturkan dari Salim bin An-Nadhr, ia bercerita bahwa Musa as singgah di tanah Bani Kan’an termasuk bagian dari tanah Syam, di mana Bal’am berada. Kaum Bal’am pun mendatangi Bal’am seraya mengatakan, “Wahai Bal’am, Musa bin Imran telah hadir di tengah Bani Israil, dan kini telah datang untuk mengusir kami. Sesungguhnya kami adalah kaummu, dan kami tidak memiliki tempat tinggal, sementara engkau adalah orang yang terkabul doanya. Keluarlah dan berdoalah kepada Allah agar menimpakan keburukan kepada mereka.”

Bal’am menjawab, “Celakah kalian! Nabi Allah disertai oleh para malaikat dan orang-orang beriman. bagaimana mungkin aku pergi untuk mendoakan keburukan atas mereka, sedangkan kelebihan yang aku miliki ini dari Allah?”

Mereka mengatakan, “Kami tidak memiliki tempat tinggal.” Mereka tidak henti-hentinya membujuk dan merendahkan diri di hadapannya untuk memperdayainya sehingga ia terperdaya.
Kemudian ia mengendarai keledainya menuju ke bukit yang dari puncaknya ia dapat melihat pasukan Bani Israil, yaitu bukit Husban. Ketika keledai itu berjalan beberapa langkah, keledai itu menderum. Ia pun turun dan memukulnya. Hingga ketika ia memukulnya dengan keras, barulah keledai itu berdiri, lalu ia menaikinya. Belum berjalan jauh hingga keledai itu menderum kembali, lalu ia memperlakukan keledai tersebut seperti tadi. Belum berjalan jauh keledainya itu kembali menderum, lalu ia memukulnya. Ketika ia menyiksa keledainya seperti itu, maka Allah mengizinkan kepada keledai tersebut untuk berbicara kepadanya sebagai bantahan kepadanya dengan mengatakan, “Celaka engkau, wahai Bal’am! Kemana engkau hendak pergi? Tidakkah engkau melihat para malaikat menolakku dari hadapanku ini? apakah engkau pergi kepada Nabi Allah dan kaum mukminin untuk mendoakan keburukan kepada mereka.” Namun, ia tidak bergeming, ia terus menerus memukulnya. Allah membiarkan keledai itu berjalan ketika Bal’am terus memaksanya agar berjalan. Hingga sampailah di atas bukit Husban, di hadapan pasukan Musa dan Bani Israil, ia mulai mendoakan atas mereka. tidaklah ia mendoakan keburukan kepada mereka, melainkan Allah memalingkan lisannya sehingga mendoakan keburukan kepada kaumnya. Tidaklah ia mendoakan kebaikan kepada kaumnya melainkan Allah memalingkan lisannya sehingga mendoakan kebaikan kepada Bani Israil. Maka kaumnya mengatakan kepadanya, “Apakah engkau tahu, wahai Bal’am, apa yang engkau lakukan? Engkau hanyalah mendoakan kebaikan kepada mereka dan mendoakan keburukan kepada kami?”

Ia menjawab, “Inilah yang tidak aku kuasai. Ini sesuatu yang telah Allah tentukan.”
Kemudian lidahnya menjulur sampai ke dadanya, lalu ia mengatakan, “Sekarang telah hilang dariku dunia dan akhirat. Tidak terisisa lagi selain makar dan tipu daya, maka aku akan membuat makar dan tipu daya untuk kalian. Hiasailah para wanita dan berikan barang-barang dagangan kepada mereka, kemudian suruhlah mereka pergi ke pasukan untuk menjual barang-barang tersebut. perintahkan kepada setiap wanita tersebut untuk tidak menghalangi dirinya dari laki-laki yang menginginkannya. Sebab jika seorang pria dari mereka telah berzina, maka itu sudah cukup bagi kalian.”

Mereka pun melakukannya. Ketika para wanita telah masuk di tengah pasukan tersebut, seorang wanita dari Kan’aniyyun yang bernama Kisbi putri Shur—pemimpin kaumnya—lewat di hadapan seorang pemuka Bani Israil, yaitu Zamri bin Syalum, pemuka keturunan Syamun bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim. Tatkala melihatnya, Zamri tertarik padanya maka ia berdiri menuju wanita itu lalu menggandengkan tangannya. Kemudian ia mendatangi Musa dengan membawa wanita itu seraya mengatakan, “Sesungguhnya aku menduga engkau akan mengatakan: ini haram atasmu dan jauhi dia.”

Musa mengatakan, “Benar, ini haram atasmu. Jangan mendekatinya.”

Ia mengatakan, “Demi Allah, aku tidak menaatimu dalam hal ini.” lalu ia membawa wanita itu masuk kemahnya lalu menggaulinya, dan Allah mengirimkan penyakit Tha’un di tengah Bani Israil.
Finshash bin Al-Izar bin harun, pelaksana perintah Musa, seorang pria yang diberi karunia berupa tubuh yang besar dan pukulan yang kuat, tidak berada di tempat pada saat Zamri bin Syalum melakukan perbuatan amoralnya. Ketika ia datang, sementara Tha’un tengah merebak di tengah bani Israil, dan mendapatkan kabar (tentang apa yang dilakukan Zamri). Maka ia mengambil tombaknya yang seluruhnya terbuat dari besi. Kemudia ia masuk ke kemahnya dan mendapati keduanya tengah tidur, maka ia menusuk keduanya menjadi satu dengan tombaknya. Kemudian ia membawa keluar keduanya sembari mengangkatnya ke udara. Ia memegang tombak dengan tangannya, menyandarkan siku-sikunya pada lambungnya, dan menyandarkan tombak pada dagunya. Ia adalah anak tunggal al-Iazar, dan ia mengatakan, “Ya Allah, demikianlah kami melakukan terhadap siapa yang bermaksiat kepada-Mu.” Dan penyakit Tha’un pun diangkat (dari tengah-tengah Bani Israil).

Orang-orang yang mati dari Bani Israil karena penyakit Tha’un—sejak Zamri berzina dengan wanita itu hingga ia dibunuh oleh Finhash— dihitung, ternyata 70.000 orang dari mereka telah mati. Ada yang mengatakan, 20.000 orang dalam sesaat di siang hari. Dari situlah Bani Israil memberikan kepada anak Finhash bin al-Izhar bin Harun dari tiap-tiap sembelihan yang mereka sembelih berupa leher, paha, dan harta mereka yang paling baik; karena ia adalah anak tunggal bapaknya al-Izar.

Berkenaan dengan Bal’am bin Ba’ura, Allah menurunkan kepada Nabi Muhammad saw surat Al-A’raf ayat 175-176 ini. “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu.” Hingga firmannya, “Agar mereka berpikir.” [4]

[2] Kisah Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh (Masuk Islam lalu murtad lalu masuk islam kembali)

Ia masuk Islam dan salah seorang juru tulis wahyu (Al-Qur’an). Kemudian ia murtad dari Islam dan menyebarluaskan di tengah-tengah publik bahwa ia mengubah Al-Qur’an. Orang-orang kafir Quraisy mempercayai apa yang disampaikan Abdullah bin Sa’ad. Lalu turunlah firman Allah, “Maka siapakah yang zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya?” (Al-A’raf: 37)

Rasulullah menghalalkan darahnya untuk dibunuh pada saat pembebasan kota Makkah bersama tiga orang lainnya, yakni Ikrimah bin Abi Jahal, Ibn Hazhal, dan Muqais bin Shababah.

Akan tetapi, saudaranya sepersusuan, Utsman bin Affan, memintakan syafaat untuknya di hadapan Rasulullah yang bersikap diam sebelum menerima pembai’atan Abdullah. Setelah Abdullah pergi, Beliau mengatakan kepada para sahabatnya, “Aku sengaja diam, agar ada di antara kalian yang langsung menebas lehernya. “Salah seorang di antara sahabat bertanya, “Mengapa Anda tidak memberikan isyarat kepadaku untuk membunuhnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya seorang Nabi tidak membunuh dengan (memberi) isyarat.”

Kemudian ia masuk Islam dan merasakan keagungan memeluk Islam. Ia ikut dalam pertempuran menumpas orang-orang murtad. Ia juga pernah bergabung dengan pasukan yang dipimpin Amr bin Ash dalam rangka untuk membebaskan berbagi wilayah baru. Ia pernah menjadi komandan pasukan sayap kanan saat pasukan kaum muslimin bergerak menuju Palestina, kemudian menuju Mesir.

Amr bin Ash menugaskan untuk memimpin pasukan dalam rangka untuk menjaga wilayah dataran tinggi Mesir dan daerah-daerah yang sering dilanda bencana banjir. Kemudian Utsman bin Affan mengangkatnya menjadi gubernur atas wilayah dataran tinggi Mesir.

Utsman bin Affan juga pernah mengangkatnya sebagai gubernur seluruh wilayah Mesir.

Ia pernah meminta restu kepada khalifah Utsman untuk membebaskan wilayah Afrika. Utsman menyetujui dan memperkuatnya dengan pasukan yang berjumlah sangat besar. Pasukan bantuan ini dikenal dengan pasukan Al-‘Abadalah, karena di dalamnya terdapat Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Ja’far, Hasan, dan Husein. Abdullah bin Sa’ad terus bergerak hingga akhirnya bertemu dengan ‘Uqbah bin Nafi’ di Burqah. Kemudian mereka meneruskan perjalanan menuju wilayah Qardojanah untuk mengalahkan pasukan Romawi di sana.

Berita Terbaru  Inilah Penakluk Andalusia yang Pemberani Thariq bin Ziyad 

Seorang juru bicara Georgerius, raja Romawi memaklumatkan kepada publik bahwa siapa yang berhasil membunuh Abdullah bin Sa’ad, maka dia akan diberi imbalan sebesar 100.000 dinar dan dia akan dikawinkan dengan putri raja. Abdullah bin Sa’ad berdiri dan memaklumatkan bahwa siapa yang berhasil membunuh Georgerius dan memenggal kepalanya, maka dia akan diberi imbalan sebesar 200.000 dinar dan dia akan dikawinkan dengan putrinya dan akan diangkat menjadi pegawai di wilayah kekuasaannya. Setelah itu, salah seorang tentara muslim berhasil membunuh Georgerius.

Pasukan Romawi berusaha menyerang Afrika Utara melalui jalur laut. Mereka datang dengan menumpang 500 kapal perang. Abdullah bin Sa’ad menghalau mereka dengan kekuatan 200 kapal perang. Akhirnya pasukan angkutan laut Abdullah berhasil mengalahkan pasukan laut Georgerius -setelah sebelumnya pasukan angkatan Abdullah mengalahka pasukan angkatan darat mereka-. Pertempuran ini dinamai dengan pertempuran Ash-Shawari, karena berkumpulnya ratusan kapal perang angkatan laut kaum muslimin dan kapal perang angkatan laut Romawi.

Abdullah bin Sa’ad akhirnya membebaskan Afrika, Cyprus dan memerangi angkatan laut Romawi.

Ia adalah orang yang sibuk melakukan jihad. Karenanya, ia tidak berada di Mesir untuk menumpas para pembentrok di bawah pimpinan Abdullah bin Saba’. Pada waktu itu, Abdullah bin Saba’ memprovokasi masyarakat untuk memerangi dan mengepung Utsman.

Ia bertolak dari Mesir bersama beberapa orang prajurit utuk menyelamatkan Utsman bin Affan dari kepungan para pembontrak. Setelah mengetahui kabar bahwa Utsman terbunuh, ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke Mesir.

Ia tidak bergabung pada salah satu pihak saat terjadi gejolak politik antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Setelah dibai’at menjadi khalifah, Ali mencopot jabatan Abdullah bin Sa’ad sebagai gubernur.

Setelah jabatannya dicopot, ia memilih tinggal di kota Asqalan, dekat Gaza. Ia menolak membai’at Ali dan Mu’awiyah dan menolak membantu salah satu pihak di antara mereka untuk memerengi pihak lain.

Iameninggal saat menunaikan shalat di Asqalan tahun 36 H. Jasadnya dimakamkan di pekuburan orang-orang Quraisy yang sudah masyhur di daerah tersebut.

[3] Kisah Jabalah bin Aiham Al Ghossani yang Murtad

Semua orang mengharapkan hidayah…, namun rasa sombongnya menghalanginya untuk bisa merangkulnya. Tak terkecuali sombong karena penampilan. Dan saya rasa, banyak wanita enggan berjilbab dan menutup aurat adalah contoh yang paling layak untuk ini. Meskipun tidak tidak dipungkiri, lelaki juga memiliki sikap yang sama.

Tersebutlah seorang raja, Jabalah bin Aiham. Pengusaha kerajaan Ghassan.. Sangat tertarik dengan islam. Diapun menulis surat kepada Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu meminta izin untuk datang ke Madinah, memeluk islam. Spontan Umar dan kaum muslimin sangat senang dengan maksud si Raja yang dulunya nasrani ini. Beliaupun menulis balasan, “Silahkan datang untuk bergabung dengan kami. Kita memiliki dan kewajiban yang sama.” Datanglah Jabalah bersama 500 penunggang kuda dari pasukannya. Ketika sudah dekat kita madinah, dia memakai baju yang dipintal dengan emas.., dan memakai mahkota kepala dengan manik-manik permata.

Sementara pasukannya memakai baju yang sangat indah. Masuklah Jabalah bersama pasukannya ke kota Madinah. Tidak ada satupun penduduk Madinah, kecuali semua mata mereka terbelalak melihat raja Ghassan. Sampai anak-anak dan wanita. Setelah sampai di rumah Umar, beliau menyambutnya dan mengajaknya duduk mendekat…

Sang raja memang benar masuk islam.., hingga akhirnya datang musim haji.

Pada musim haji kali ini, Umar melaksanakan haji, demikian pula Jabalah. Di sinilah mulai muncul masalah. Ketika thawaf, tiba-tiba kain ihram Jabalah terinjak seorang yang fakir dari suku Fazarah. Melihat hal itu, Jabalah langsung marah besar dan menempeleng si fakir, hingga hidungnya terluka. Si fakirpun marah, dan dia hanya bisa mengadu kepada Umar bin Khatab, sang Khalifah yang adil nan bijaksana.

Setelah Jabalah menghadap Umar, terjadilah dialog,

“Apa sebabnya kamu menampar saudaramu ketika tahawaf?, wahai Jabalah.., sampai hidungnya terluka.” Tanya Amirul Mukminin.

“Dia menginjak kain ihramku. Andaikan bukan karena menghormati Ka’bah, ingin kupenggal kepalanya.” Jawab si raja.

“Nah, sekarang kamu sudah mengakui. Ada dua pilihan, bayar denda kepadanya yang membuat dia merelakan kesalahanmu atau qishas, dan aku akan menampar wajahmu.” Umar memutuskan.

“Saya diqishas?? … Padahal saya raja dan dia jongos!!” Jabalah keheranan.

“Wahai Jabalah, Sesungguhnya islam menyamakan statusmu dengan dia. Tidak ada yang membuat lebih mulia selain taqwa.” Jawab Umar.

“Kalau begitu, saya akan balik nasrani.” Tukas Jabalah.

“Siapa yang mengganti agamanya (Murtad) maka dia dibunuh… jika kamu kembali jadi nasrani, aku akan penggal kepalamu.” Jawab Umar tegas.

“Berikan aku waktu sampai besok, wahai amirul mukminin.” Pinta Jabalah

“Ya, kami tunggu.” Jawab Umar.

Malam harinya, Jabalah dan beberapa tentaranya keluar dari Mekah.., dia menuju Konstatinopel dan kembali nasrani.

Setelah berlalu waktu yang lama dia tinggal di negeri nasrani, kesempatan menikmati lezatnya dunia mulai berkurang.. seiring dengan berkurangnya kemampuan indera manusia untuk menikmati dunia.

Tinggallah kerugian. Jabalah masih mengingat kenangan indah ketika menjadi muslim. Dia ingat betapa lezatnya shalat dan puasa bersama kaum muslimin.

Suatu ketika dia melantunkan bait syair sambil menangis,

Orang terhormat menjadi nasrani karena tamparan *** Andaikan dia bersabar, itu tidak membahayakan dirinya
Aku terdorong melakukannya karena kebanggaan dan kehormatan *** yang saat ini kutukar dengan mata yang buta
Andaikan ibuku tidak melahirkanku, duh andaikan aku *** kembali pada keputusan Umar
Duh andaikan aku memperhatikan si fakir *** dan aku berjalan di suku Rabi’ah dan Mudhor
Andaikan aku di syam, dengan hidup yang lebih sengsara *** saya duduk bersama rakyatku, dengan tuli dan buta.

[4] Kisah Ar-Rajjal bin Unfuwah 

Ar-Rajjal bin Unfuwah setidaknya merupakan mantan sahabat Nabi dan seseorang yang berilmu (mengerti benar tentang definisi Ad-Dien). Ar-Rajjal bin Unfuwah merupakan orang yang menyertai Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan belajar Islam kepada beliau. Lalu, beliau mengutusnya sebagai pengajar kepada penduduk Yamamah, kaumnya Musailamah Al-Kadzab (Nabi palsu = mengaku dirinya nabi).

Setelah itu dia murtad dan bersaksi bahwa Musailamah menjadi sekutu Nabi dalam kerasulan. Orang – orang pun percaya kepadanya, mereka mengikuti Musailamah karena percaya kepada Ar-Rajjal. Namun, hal ini tidak menghalangi para sahabat untuk mengkafirkan dan memerangi mereka.

Ath-Thabari menyebutkan ceritanya dalam kitab “Tarikh”-nya, dia berkata, “As-Sarri menuliskan surat kepadaku dari Syu’aib, dari Sa’if, dari Thalhah bin A’lam, dari Ubaid bin Umair, dari Utsal Al-Hanafi –dia bersama Tsumamah bin Utsal-, dia berkata, Musailamah merayu dan merangkul setiap orang; dia tidak peduli dengan orang yang melihatnya berbuat jelek, dan bersamanya Ar-Rajjal bin Unfuwah. Dia (Ar-Rajjal bin Unfuwah) telah berhijrah kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, membaca Al-Quran dan memahami dien. Maka, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengutusnya sebagai pengajar penduduk Yamamah, supaya mereka menentang Musailamah dan bersikap keras terhadap urusan umat Islam.

Namun, Ar-Rajjal (malah) menjadi fitnah yang lebih besar bagi Bani Hanifah daripada Musailmah. Dia bersaksi bahwa dia mendengar Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengatakan, Dia (Musailamah) bersekutu dengannya (Nabi). Mereka pun mempercayai Ar-Rajjal dan merespon apa yang dikatakannya. Kemudian mereka menyuruhnya untuk menulis surat kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan mereka berjanji jika beliau tidak menerima (isinya), mereka akan membantu melawan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Ath-Thabari juga berkata, “As-Sarri menulis surat kepadaku, dan menuturkan bahwa telah bercerita kepada kami Syu’aib dan Sa’if, dari Thalhah, dari Ikramah, dari Abu Hurairah; dan Abdullah bin Sa’id dari Abu Sa’id, dari Abu Hurairah, dia berkata, ‘Dahulu Abu Bakr diutus kepada Ar-Rajjal. Lalu dia mendatangi menyampaikan wasiatnya kepadanya. Kemudian Ar-Rajjal diutus kepada penduduk Yamamah dan dia melihat bahwa Ar-Rajjal jujur ketika menjawab.’

Abu Hurairah berkata, ‘Dahulu aku duduk bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dengan sekelompok orang, ketika itu Ar-Rajjal bin Unfuwah bersama kami. Beliau Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya, di antara kalian ada yang gigi gerahamnya, di neraka, lebih besar dibandingkan gunung Uhud.’ Kemudian mereka yang berada di majelis itu telah meninggal, tinggallah aku dan Ar-Rajjal. Aku khawatir dengan sabda Nabi tersebut. Hingga akhirnya Ar-Rajjal keluar bersama Musailamah. Dia bersaksi bahwa Musailamah itu Nabi. Maka, fitnah yang dilakukan Ar-Rajjal lebih besar daripada fitnah Musailmah. Lalu Abu Bakar mengutus Khalid kepada mereka.

[5] Kisah Abdah bin Abdurrahim

وفيها  (278 هـ)  توفي عبدة بن عبد الرحيم قبحه الله
ذكر ابن الجوزي أن هذا الشقي كان من المجاهدين كثيرا في بلاد الروم، فلما كان في بعض الغزوات والمسلون محاصروا بلدة من بلاد الروم إذ نظر إلى امرأة من نساء الروم في ذلك الحصن فهويها فراسلها ما السبيل إلى الوصول إليك ؟ فقالت أن تتنصر وتصعد إلي، فأجابها إلى ذلك، فلما راع المسلمين إلا وهو عندها، فاغتم المسلمون بسبب ذلك غما شديدا، وشق عليهم مشقة عظيمة، فلما كان بعد مدة مروا عليه وهو مع تلك المرأة في ذلك الحصن فقالوا: يا فلان ما فعل قرآنك ؟ ما فعل علمك ؟ ما فعل صيامك ؟ ما فعل جهادك ؟ ما فعلت صلاتك ؟ فقال: اعلموا أني أنسيت القرآن كله إلا قوله (ربما يود الذين كفروا لو كانوا مسلمين ذرهم يأكلوا ويتمتعوا ويلهيهم الامل فسوف يعلمون)  الحجر: 3
“Pada tahun (278H), telah wafat Abdah bin Abdurrahim –semoga Allah memburukkannya-, telah disebutkan oleh Ibnul Jauzy bahwa orang malang ini dulunya termasuk dari seorang lelaki yang sering berjihad di negeri Romawi, ketika dalam beberapa peperangan dan pada waktu itu kaum muslim mengepung sebuah daerah dari kekuasan Romawi, lelaki sang mujahid yang terkena godaan ini memandang kepada seorang wanita dari bangsa Romawi di benteng tersebut, maka akhirnya lelaki ini menginginkan wanita tersebut, lalu ia menyurati wanita tersebut; “Bagaimana agar aku bisa sampai kepadamu?”, wanita ini menjawab: “Kamu masuk ke dalam agama Nashrani lalu kamu naik menemuiku”, lalu lelaki ini menerima ajakan tersebut”, maka ketika kaum muslim mengepung malah dia berada bersama wanita tersebut, kejadian itu sangat menyakitkan dan memberatkan kaum muslim, setelah beberapa waktu berlalu, kaum muslim melewati benteng tersebut dan si lelaki ini sedang bersama wanita tersebut di benteng itu, mereka (kaum muslim) bertanya kepada lelaki tersebut: “Wahai Fulan, Apa yang telah Al-Qur’an lakukan terhadapmu?, apa yang telah dikerjakan oleh ilmumu terhadapmu? Apa yang telah dikerjakan puasamu terhadapmu? Apa yang telah dikerjakan oleh jihadmu terhadapmu? Apa yang telah diperbuat shalatmu terhadapmu?”, lelaki ini menjawab: “Ketahuilah kalian semuanya, sesungguhnya aku telah lupa Al-Qur’an kecuali Firman-Nya:
Artinya: “Orang-orang yang kafir itu sering kali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)”. (QS. Al Hijr: 2-3).

[6] Kisah Abdullah Al – Qosim

Abdullah Al-Qasimi: Dari Seorang Pembela Sunnah Menjadi Seorang Murtad!
Sebuah peringatan dari Syaikh Muhammad bin Hadi

Syaikh Muhammad bin Hadi:
Satu contoh tentang hal ini adalah Abdullah Al-Qasimi.

Berapa banyak buku yang dia punya yang membela dakwah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, dakwah Tauhid?!

Bukunya, “Pertentangan antara Islam dan kekafiran”; lihatlah ke dalamnya. (Bukunya) “Halilintar dari Najd menyapu bersih kegelapan Ad-Dajwi”, tertulis di sana.

Baca buku-buku yang telah ia tulis yang membantu dakwah tauhid, dakwah Salafi, dan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Kemudian setelah itu ia menjadi seorang murtad! Dan Ulama-ulama dari dakwah ini telah menetapkan bahwa ia adalah seorang murtad. Dan penetapan ini diucapkan dan didokumentasikan dalam buku-buku. (Dia memiliki) tulisan-tulisan yang membela dakwah Salafi, kemudian ia menjadi seorang murtad!

Wahai hamba-hamba Allah! Apa masalah Anda, mengapa Anda tidak takut atas dirimu sendiri?! Wajib bagi kita semua untuk takut atas diri kita sendiri. Maka jika seseorang sedang berada dalam keadaan baik maka ia harus meminta keteguhan kepada Allah; ini adalah sebuah prinsip.

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.” (QS. Ali Imran [3] : 8)

Hal ini karena hati seorang hamba bisa menyimpang, bahkan setelah ia telah mendapat petunjuk, karena hati para hamba -seperti yang kita telah diberitahu oleh Nabi صلى الله عليه وسلم- berada diantara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, dia membolak-balikkannya sesuai yang Dia kehendaki. Dan Nabi صلى الله عليه وسلم telah memberitahu kami tentang fitnah yang akan terjadi pada akhir zaman, ketika seorang akan menjadi seorang mukmin di pagi hari dan kafir di malam hari, atau ia akan menjadi seorang mukmin di malam hari dan kafir di pagi hari, menjual agamanya untuk keuntungan duniawi. Kami meminta kepada Allah keselamatan dan keamanan.

Jadi mengapa orang-orang terguncang ketika mereka mendengar fulan dan fulan dulu membantu Sunnah dan kemudian dia menyimpang?

Kami meminta kepada Allah keteguhan dan kami meminta kepada Allah untuk menunjuki orang yang seperti yang disebutkan dalam pertanyaan. Tapi biarkan orang tahu bahwa hal ini sedang terjadi dan telah terjadi, dan ini telah terjadi dan akan terus terjadi, selama manusia ada selama manusia masih hidup. Jadi jangan khawatir, dan jangan lari dari (kenyataan) ini akan tetapi mintalah kepada Allah keteguhan dan keamanan.

Abdullah al-Qasmi lahir di Buraidah, Arab Saudi pada tahun 1907 dan meninggal di Kairo, Mesir pada tahun 1996. Ia menjadi seorang atheis dan telah dibantah secara menyeluruh oleh Imam As-Sa’di.

7 Kisah tersebut jika kita tarik kesimpulan memang hidayah itu harus dijaga sampai mati, yang sulit adalah istiqomah namun memulai nya mudah sekali.

Terkadang kita merasa ada preman didepan kita lewat lalu, kita katakan, “dia penduduk neraka” wal iyadzubillah, tidakah kalian membaca kisah seorang yang telah membunuh 99 orang + 1 orang ? iyah dia tidak pernah beramal sholih namun karena usaha sang pembunuh mengejar hidayah Allah maka karena keluasan rahmat Allah ia dimasukan ke syurga.

Diantara Penyebab Kemurtadan seseorang yaitu,

[1] Karena Allah Telah menentukan

[2] Karena Sisi Hidayah belum sempurna

Firman Allah: “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya..”(Al-Kahfi : 17)

[3] Dosa-Dosa yang kita lakukan diri sendiri itulah yang menjadi penyebab berpalingnya kita dari Jalan Allah ‘Azza wa Jalla

Artikel : pintuilmuyoga.wordpress.com

==========

Daftar Pustaka:

[1] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. Al-A’raf, 7: 175-177. Jilid 3, hal, 728.
[2] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. Al-A’raf, 7: 175-177. Jilid 3, hal, 728.
[3] Sahih Tafsir Ibnu Katsir (Peneliti Syaikh Al-Mubarakfuri). QS. Al-A’raf, 7: 175-177. Jilid 3, hal, 728.
[4] Demikian yang terdapat dalam sahih Tafir Ibnu Katsir, ). QS. Al-A’raf, 7: 175-177. Jilid 3, hal, 729-731.

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑