Resume Kajian Islam Bersama Ust Syafiq Riza Basalamah & Ust Muhammad Nuzul Dzikri – Tema (Muara Hijrahku)


NOTULENSI KAJIAN SUNNAH

👤 UST DR. SYAFIQ RIZA BASALAMAH, MA
👤 UST MUHAMMAD NUZUL DZIKRI, LC
–  (MUARA HIJRAHKU )
📆  Rabu, 19 Juli 2017 (25 Syawwal 1438H)
🕌 Masjid Agung Al-Azhar – Jakarta Selatan
====================

Ditulis Langsung oleh -Yoga Pratama- seorang yang penuh kekurangan dan haus ilmu agama sesuai Qur’an & Sunnah,

👤 UST MUHAMMAD NUZUL DZIKRI, LC

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Qs. An-Nisa:100]

Ketika seseorang berhijrah maka ia akan mendapatkan kelapangan Rizki serta Rumah Tangga dan ia akan mendapatkan kelapangan ketika ia menghayati indahnya sujud. Ayat ini memberikan jaminan kepada kita, ketika kita berhijrah bukan untuk teman, bukan untuk komunitas, bukan untuk kota tapi kita berhijrah untuk zat yang maha perkarsa dan dzat yang maha bijaksana.

MAKNA HIJRAH SECARA ETIMOLOGI DAN ISTILAH

الْمُهَاجَرَةُ(Hijrah) sebagaimana dikatakan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah keluar dari negeri kafir kepada negeri iman, sebagaimana para sahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah.

Dan hijrah di jalan Allah itu, sebagaimana dikatakan oleh Sayid Muhammad Rasyid Ridha harus dengan sebenar-benarnya. Artinya, maksud orang yang berhijrah dari negerinya itu adalah untuk mendapatkan ridha Allah dengan menegakkan agamaNya yang ia merupakan kewajiban baginya, dan merupakan sesuatu yang dicintai Allah, juga untuk menolong saudara-saudaranya yang beriman dari permusuhan orang-orang kafir.

MACAM-MACAM HIRJAH

[1] Seseorang yang hijrah dengan fisik (Tingkatan terendah)

yaitu, ketika seseorang mulai merubah dirinya karena sesuatu, dia mulai membuka kacamata islam itu karena kerjaan dia yang halal dan gajinya besar, atau karena perempuan yang ia nikahi.

[2] Seseorang Hijrah Dengan Hati 

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Ketika seseorang telah berhijrah dengan hatinya maka ia akan bertekad apapun yang ia hadapi dia akan selalu memiliki solusinya, oleh karena itu dia fokus apa yang Allah Ridhoi bukan kepada apa yang Allah benci

Jika ada orang yang berkata “Bro, Lu Kok Belum Hijab ?” Dia Jawab, “Gue Mau Hijab Hati Gue Dulu. “ Maka tanyakanlah kepada mereka yang jawab demikian, Bisakah kau praktekan bagaimana bisa hati di hijab dan apakah ajalmu menunggumu hingga kau berhijab ? sedangkan, Ajalmu akan selalu datang kepadamu sesuai kehendak Allah. Akankah kau mati dalam keadaan tidak menutup aurat wahai saudariku ?

Ketika seseorang sudah berhijrah maka dia akan takut kepada zat yang maha kaya, dia akan malu dengan zat yang maha mengawasi kapanpun, dimanapun pada detik apapun.

Diantara Dalilnya adalah :

[1] Ketika Berhijrah pasti Allah akan Uji, Pasti 

Allah Subhanahu Wa ta’ala berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” [Qs. Al-Ankabut: 2]

Ujian akan selalu datang bagi orang yang berhijrah, adakah diantara kalian yang bersenang senang ? tidak, tapi hijrah butuh pengorbanan.

[2] Sebagai Membedakan Antara yang mukmin dan yang munafiq

وَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْمُنَافِقِينَ

“Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman: dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik.” [Qs. Al-Hujurot: 11]

Orang Munafiq jelas, tempatnya di keraknya neraka, dan orang mukmin tempatnya di syurga. Lalu bagaimanakah para sahabat dahulu ketika hijrah ?  Jika kita membaca untaian demi untaian maka kita akan merasakan sungguh luar biasanya para sahabat dalam hijrahnya sampai menghabiskan bahkan meninggalkan harta dan saudara mereka, demi apa ? demi Islam, mereka korbankan semuanya karena Allah.

[3] Allah senantiasi melihat hati seorang hamba dalam langkah hijrahnya

Kadang dalam berhijrah seseorang masih ngomong Gue Loe  tapi setelah berhijrah dia ngomong Ane Ente tapi tau gak bahwa Allah melihat hati seorang hamba

Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rosulullah Sholallahu’alaihi wa sallam bersabda,

Tidaklah lurus iman seseorang hingga lurus hatinya, dan tidaklah lurus hati seorang hamba hingga lisanya lurus” [HR.Ahmad]

[4] Perhatikan Pakaianmu setelah Berhijrah

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” [Qs. Al-Arof: 26]

Hakikat takwa, ialah kita mencari perisai yang bisa melindungi diri dari adzab Allah. Yaitu dengan cara menjalankan setiap perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Apabila mampu berbuat demikian, maka kita akan menjadi orang yang bertakwa kepada Allah. Untuk itu, semestinya kita berhati-hati dalam bertindak, bersikap cermat dan berilmu tentang halal dan haram.

‘Umar bin Khaththab pernah bertanya kepada Abu Musa tentang hakikat takwa. Abu Musa menjawab: ”Wahai Amirul-Mukminin, apa yang akan engkau lakukan apabila engkau sedang berjalan di tempat yang penuh duri?”

Maka ‘Umar menjawab: ”Aku akan melihat kepada kakiku. Sehingga aku bisa mengetahui, apakah aku pijakkan di atas duri, ataukah di tempat yang aman”.

Inilah hakikat takwa, dengan selalu melihat setiap perbuatan kita, apakah termasuk perbuatan yang diridhai Allah Ta’ala, ataukah sebaliknya? Apabila termasuk perbuatan yang dibenci Allah, maka wajib bagi kita untuk meninggalkannya. Jangan sampai Allah melihat kita berada dalam keadaan yang tidak Dia sukai.

Kalau kita fokus ke penampilan, orang munafiq pun selalu memfokuskan kepada penampilan, tapi orang mukmim mereka berfokus pada hati dan penampilan. Penampilan mereka oke mencerminkan dan menggambarkan kalau kita tuh muslim. Sedangkan Hati mereka khusyu’ kepada zat Kholiq.

Inti Hijrah adalah Cinta & Benci

BELAJAR & BELAJAR DALAM PROSES HIJRAH

Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dengan sanad shahih, An-Nasai dan lain-lain, dari Syaddad bin Al-Had bahwa ada seorang laki-laki Arab Badui datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beriman kepada apa yang dibawa oleh nabi dan mengikuti beliau. Badui tersebut berkata kepada nabi, “Aku akan berhijrah bersamamu,” Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat memberikan nasihat agama kepadanya. Pada Perang Khaibar, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam membagikan ghanimah kepada kaum muslimin. Nabi memberikan bagian kepada para sahabat yang membuat mereka bergembira, akan tetapi ketika pembagian sampai kepada si Badui, tiba-tiba dia menolaknya sembari berkata, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Ini adalah bagian ghanimah untukmu yang berasal dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.”

Mendapatkan jawaban para sahabat, si Badui terpaksa mengambil bagian ghanimah itu tetapi kemudian dia menghadap Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sesampai di hadapan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, si Badui bertanya, “Harta apakah ini?” “Ini adalah bagian ghanimah yang aku bagi untukmu.” jawab Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kembali orang Badui itu berkata, “Bukan karena perkara ini aku mengikutimu, akan tetapi aku mengikutimu karena aku ingin agar suatu saat nanti aku terkena lemparan panah di sini –sambil menunjuk ke lehernya– sehingga aku terbunuh dan masuk jannah karenanya.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Jika engkau jujur kepada Allah, maka Allah akan membenarkanmu.”

Setelah itu, kaum muslimin beristirahat sebentar, mereka kemudian  melanjutkan lagi penyerbuan terhadap musuh. Di tengah berkecamuknya peperangan, si Badui dibawa menghadap Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan keadaan terkena panah di tempat yang sesuai dengan yang dia tunjukkan sebelumnya. Melihat itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah dia orang yang kemarin?” Para sahabat menjawab, “Benar,” Nabi bersabda, “Dia telah berbuat shiddiq kepada Allah , maka Allah berbuat shiddiq kepadanya.” Selanjutnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengkafaninya dengan baju besi milik Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mendoakannya dan di antara doa beliau adalah,

“Ya Allah, ini adalah hamba-Mu, dia keluar untuk behijrah di jalan-Mu dan terbunuh sebagai syahid. Dan aku bersaksi atas perkara itu.”

Kalau kita telah jujur dalam berhijrah mulai dari hijabnya, jenggotnya, celana diatas mata kakinya apapun musibah yang menimpa dan menerpa mu kau tetap teguh diatas pendirian mu, bahkan seakan akan celaan orang yang mencelamu kau anggap sebuah kebahagiaan karena ia iri denganmu tidak bisa sepertimu.

Tugas Penuntut Ilmu dan yang baruberhijrah bukan membantah pendapat ulama lain yang tidak sependapat dengan engkau. Kau Baru Hijrah dan kau bukan seorang Mujtahid maupun Ulama’. Kita baru hijrah beberapa tahun apakah kita perlu menjadi mujtahid dalam waktu cepat, sedangkan para ulama salaf mempelajari adab sekitar 20 Tahun dan kau baru belajar ?

====================

👤 UST DR. SYAFIQ RIZA BASALAMAH, MA

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. [HR.Bukhori-Muslim]

Hijrah itu sebuah kemuliaan dan kembali kepada Allah maka inilah sebuah keagungan dan jika seseorang niat hijrahnya untuk dunia serta wanita maka ia akan mendapatkan apa yang dia niatkan itu.

Diantaranya ada beberapa jenis orang yang berhijrah,

[1] Sesesorang berhijrah karena dunia – karena kerjanya atau karena didaerah kerjanya lingkunganya islami atau karena gaji antara kerja yang halal dengan yg haram lebih besar yang halal.

[2] Seseorang berhijrah karena wanita yang dia nikahi, dikarenakan wanitanya sholihah maka ia pun berhijrah dan menjadi sholih sesuai apa yg diinginkan sang pendamping hidup.

Kisah Jarir bin Abdillah 

Rosul Sholallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda, ‘Akan datang kepada kalian dari jalan ini orang terbaik dari Yaman, ketahuilah bahwa di wajahnya ada sentuhan malaikat’.” Mendengar itu, ketika sahabat menunggu ternyata ia adalah Jarir bin Abdillah

3 Golongan yang menjadi Korek nya Neraka

Di dalam kitab Shahihnya, Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits agung yang dikutip oleh Dr Abdullah Azzam dalam Tarbiyah Jihadiyah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Yang pertama kali dijilat (dibakar) api neraka pada Hari Kiamat adalah tiga golongan.”

Siapakah mereka?

Mereka adalah, “Orang alim, mujahid dan orang yang dermawan.” Dalam hadits yang panjang ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjelaskan sebagai berikut:

Datanglah orang alim ke hadapan Allah Ta’ala. Dia bertanya, “Apa yang kamu lakukan di dunia?” Jawab sang alim, “Aku mencari ilmu di jalan-Mu dan menyebarkannya untuk mengharap keridhaan-Mu.”

Mendengar penjelasan sang alim, Allah Ta’ala langsung menghardiknya, “Kamu dusta!” Lanjut-Nya, “Engkau mencari ilmu supaya dikatakan sebagai orang alim.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia menerima upah dunia atas ilmu yang disampaikannya. Kemudian malaikat diperintahkan untuk menyeretnya ke dalam neraka.

Setelah orang alim, datanglah orang yang dermawan. Ketika ditanyakan pertanyaan serupa sebagaimana ditanyakan kepada orang alim, sang dermawan menjawab, “Aku mencari harta yang halal, kemudian menginfaqkannya di jalan-Mu.”

Berharap mendapat kebaikan atas apa yang ia lakukan, Allah Ta’ala justru menghardiknya, “Kamu dusta!” Pasalnya, sang dermawan, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini, “Engkau infaqkan hartamu supaya disebut dermawan.” Dan disebutkan dalam riwayat lain, “Kau ingin mendapatkan pujian atas apa yang kau lakukan.” Atas dua niat itu, ia telah mendapatkannya di dunia.

Lalu, Allah Ta’ala perintahkan malaikat untuk menyeret dan menjebloskannya ke dalam neraka.

Setelah keduanya, datanglah golongan ketiga. Ialah para mujahid. Saat disampaikan pertanyaan serupa, ia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu, sehingga terbunuh dalam peperangan.” Sebagaimana kedua golongan pertama, sang mujahid mendapatkan jawaban serupa, “Kamu dusta! Kamu berperang untuk mendapatkan julukan pemberani.”

Siapapun yang hijrah, maka tolonglah niatnya diluruskan serta kadang dalam hijrah Reputasi dan Popularitas adalah sebuah hal yang begitu amat berat.

====================

👤 UST MUHAMMAD NUZUL DZIKRI, LC

Ketika denger Qur’an Iman dan Air mata TAK DI BENDUNG tapi kadang Kufur, Bagaimana ?

Ketika ketahui bahwa Iman seseorang kadang Naik dan kadang Turun, ketika Ratenya naik tentunya itu dari perbuatan amal sholih yang ia lakukan. Tidak ada yang paling penting mengobati rasa Futur melaikan Sebagaimana Firman Allah mengenai kisah Nabi Musa dan Nabi Khidr,

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” [Qs. Al-Kahfi: 68]

Qaidah Tafsir : “Anda tidak akan bisa bertahan tanpa ilmu”

Dan Ketika ulama’ salaf dahulu di buli, dicaci, dighibahi maka tiada ucapan yang mereka katakan melaikan, “Selamat Datang Wahai orang yang membuliku, mencaciku,menghibahiku” karena apa, ketika mereka membuli mencaci menggibahi, itu sedang proses transfer pahala mereka ke sang ulama

Untuk Mengatasinya yaitu dengan Ilmu dan Ilmu dan Ilmu, belum dikatakan belajar ketika ia masih asik dengan hapenya dan habis waktunya untuk ngepost di instagram, twitter, facebook dan media sosial lainya, tanpa mendatangi kajian dan majelis ilmu’.

====================

UST DR. SYAFIQ RIZA BASALAMAH, MA

Yang Menjadi, Barometer dalam menghadapi Futur adalah kematian ,

Firman Allah,

Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS.Ali Imran:102).

Bagi yang berhijrah maka perbanyaklah berdoa,

يامقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
‘Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik’
Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”
[HR.Tirmidzi 3522, Ahmad 4/302, al-Hakim 1/525, Lihat Shohih Sunan Tirmidzi III no.2792]

Para Sahabat dahulu ketika beramal, mereka semuanya takut amalanya tidak di terima oleh Allah,

Semakin Berilmu maka kalian akan semakin takut, sebab orang takut ia telah berilmu bahwa semua amalanya tidak dijamin di terima oleh Allah. Dan iapun lebih memperbanyak ibadahnya karena tidak tahu mana ibadah yang diterima Allah.

Maka hendaklah kita perbanyak doa dan ikut komunitas atau organisasi dikala futur serta jangan pernah sendirian di kamar, keluarlah sebab saat itu setan sedang menghampirimu secara bergerombolan dan mendorongmu berbuat maksiat. pergilah kemasjid cari teman atau sohib yang sholih

Artikel : pintuilmuyoga.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑