Resume Tabligh Akbar Bersama Ust Kholid Basalamah – Sahabat Ukasyah bin Mihshon


RESUME KAJIAN SUNNAH

👤 UST DR.KHOLID BASALAMAH, MA –  (Ukasyah bin Mihshon – Masuk Syurga tanpa Hisab)
📆 12 AGUSTUS 2017 / 20 DZULQOIDAH 1348H
🕌 Masjid Nurul Iman Blok M Square Lantai 7 – Jakarta Selatan

_______________________________________________________

BIOGRAFI SEKILAS DARI UKASYAH BIN MIHSHON AL ASSADI

Ukasyah bin Mihshon Al-Assadi sekutu dari Bani ‘Abdi Syams. Arti nama Ukasyah sendiri yaitu “laba laba” dan Assad termasuk cabang dari suku Bani ‘Abdi Syams. Ukasyah terkenal akan ketampananya serta penampilan yang menarik juga keberanian serta keteguhanya dalam menerima siksaan dari orang-orang Quraisy bersama orang-orang mukmin yang menerimanya.

Namun semua itu hanya menambah keimanan dan kepasrahan serta keteguhan untuk berpegang kepada agama ini, sementara orang-orang Qroisy tidak kenal henti dalam memerangi Islam dan orang-orangnya walaupun hanya sesaat. Mereka telah mempersempit jalan-jalan kehidupan di depan orang – orang beriman. Mereka berupaya mengembalikan orang-orang beriman dari agama yang mulia ini.

JIHADNYA DIJALAN ALLAH

Nabi ﷺ mengangkatnya untuk memimpin brigade al-Ghamr yang beranggotakan empat puluh orang. Mereka berangkat ke al-Ghamr. Penduduknya mengetahui kehadiran Ukasyah dan pasukanya, maka mereka melarikan diri, ‘Ukasyah menguasai mengetahui tempat persembunyian ternak mereka, maka ‘Ukkasyah menyerang tempat tersebut dan menguasai dua ratus unta yang selanjutnya di giring ke Madinah. [Siyar A’laamin Nubalaa’ karya adz-Dzahabi (I/306)]

‘Ukkasyah ikut dalam Perang Badar. Pada perang ini dia menunjukan kepahlawanannya. ‘Ukkasyah juga hadir dalam Perang Uhud, Khandaq, dan perang sesudahnya. [Siyar A’laamin Nubalaa’ karya adz-Dzahabi I/307]

HADIST MENGENAI MASUK SYURGA TANPA HISAB 

Hadist Pertama

Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau berkata:

“Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang nabi atau dua orang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: ‘Ini adalah Musa dan kaumnya,’ lalu dikatakan, ‘Perhatikanlah ke ufuk.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, ‘Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, ‘Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.’ Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau keluar dan berkata, ‘mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak mita di-kai, dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal.” [HR. Bukhari 8270]

Hadist Kedua

dari Abbas radhiallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Ditampakkan kepadaku beberapa ummat. Maka ada seorang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh satu ummat, ada pula seorang nabi yang diikuti oleh beberapa orang, ada juga nabi yang diikuti oleh sepuluh orang. Ada juga nabi yang diikuti lima orang, bahkan ada seorang nabi yang berjalan sendiri. Aku pun memperhatikan maka tiba-tiba ada sejumlah besar orang, aku berkata, ‘Wahai Jibril, apakah mereka itu ummatku? Jibril menjawab, ‘Bukan, tapi lihatlah ke ufuk!’ Maka aku pun melihat ternyata ada sejumlah besar manusia. Jibril berkata, ‘Mereka adalah ummatmu, dan mereka yang di depan, 70.000 orang tidak akan dihisab dan tidak akan diadzab.’ Aku berkata, ‘Kenapa?’ Dia menjawab, ‘Mereka tidak minta di-kai, tidak minta diruqyah, dan tidak meramal nasib serta hanya kepada Allah mereka bertawakal.’Maka berdirilah Ukasyah bin Mihshan, lalu berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan salah satu seorang di antara mereka.’ Nabi pun berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah dia salah seorang di antara mereka.’Lalu ada orang lain yang berdiri dan berkata, ‘Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku salah seorang di antara mereka.’ Nabi Shalalahu ‘alaihi wasslam menjawab, ‘Kamu telah didahului oleh Ukasyah’.” [HR. Bukhari 6059]

Hadist Ketiga

Dari Sa’id bin Musayyab, Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, mengatakan bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, bersabda ;
“Nanti akan masuk surga satu rombongan umatku, terdiri dari tujuh puluh ribu orang. Muka mereka bersinar-sinar bagaikan cahaya bulan purnama.” Kata Abu Hurairah selanjutnya, “Mendengar sabda Nabi itu, ‘Ukasyah bin Mihshan Al Asadi serta-merta berdiri sambil mengacungkan tangannya dan berkata : ‘Ya, Rasulullah! Doakanlah kepada Allah, semoga aku termasuk dalam rombongan mereka.” Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, mendoakannya, “Wahai, Allah! Masukanlah dia di antara mereka.” Kemudian berdiri pula seorang laki-laki Anshar, katanya, “Ya, Rasulullah! Doakan pulalah kepada Allah, semoga aku termasuk di antara mereka.” Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Ukasyah telah mendahului anda.”[HR.Muslim]

Para Ulama Berkata, “Seandainya para sahabat ditunjuk sebagai orang yang masuk syurga tanpa hisab, sudah tentu umat akhir zaman tidak dapat kebagian”

‘Ukkasyah Memerangi orang-orang yang Murtad

Ketika Nabi ﷺ wafat, banyak suku dari kalangan orang-orang Arab pedalaman yang murtad dan kemunafikan kembali menggeliat di Madinah. Para delegasi berdatangan untuk mengakui kewajiban shalat, tetapi mereka menolak membayar zakat. Diantara mereka ada yang menolak membayarkannya kepada Abu Bakar ash-Shidiq رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Abu Bakar ash-Shidiq رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ mengambil sikap besar lagi berani. Dia berkata, “Demi Allah, seandainya mereka itu tidak memberikan seekor anak domba kepadaku padahal sebelumnya mereka membayarkannya kepada Rosulullah ﷺ, niscaya aku akan memerangi mereka karenanya. Sesungguhnya zakat adalah hak harta, demi Allah, aku pasti memerangi siapa saja yang membedakan antara shalat dan zakat”

ash-Shidiq رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ bertekad memerangi mereka Di antara orang-orang murtad tersebut adalah Thulaihah bin Khuwailid al-Assadi.

Laki-laki ini mengaku sebagai Nabi di antara kaumnya Bani Asad dan di Gathafan. Sebagian orang-orang yang telah murtad dari Bani ‘Avs dan Dzubyan telah bergabung dengannya.

‘Ukkasyah bin Mihshan رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ Berangkat memerangi Thulaihah bin Khuwailid al-Assadi. dan orang-orang murtad bersamanya, padahal antara ‘Ukkasyah bin Mihshan dengan Thulaihah satu suku. Ketika ‘Ukasyah memerangi mereka diantara mereka ada keponakan dan paman-paman ‘Ukkasyah namun diantara mereka ada yang kembali islam. Alhamdulillah.

Nikmat Tawakkal

Tawakkal adalah bersandar dengan benar kepada Allah dalam mewujudkan kemaslahatan dan menolak mudharat terkait dengan perkara-perkara dunia maupun akhirat.

ۚ مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” [Qs Al Fathir : 10]

Allah عَزَّ وَ جَلَّى berfirman :

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 2-3)

Para ahli tafsir berkata, “Sesungguhnya ayat ini berlaku umum. Ayat ini turun tentang ‘Auf bin Malik al-Asyja’i.” – Kisahnya akan disampaikan setelah ini sesuai sistematis ceramah Ustadz Khalid Basalamah

KEUTAMAAN / MANAQIB SAHABAT ‘UKKASYAH BIN MIHSHON  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

1.] Beliau Termasuk Sahabat Nabi

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

 

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [Qs. at-Taubah : 100]

2.] Termasuk Sahabat yang ikut Perang Ba’dar

Umar Radhiyallahu anhu mengatakan: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, biarkanlah aku memenggal leher orang munafik ini!” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Sesungguhnya dia telah ikut serta dalam perang Badar dan kamu tidak tahu barangkali Allah telah melihat kepada para Sahabat yang ikut serta dalam Perang Badar lalu berfirman : “Perbuatlah sesuka kalian karena sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian !” Kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang sementara Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nampakkan. Barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. [al-Mumtahanah/60:1]

3.] Sahabat yang dijamin Masuk Syurga Tanpa Hisab

[Hadistnya pada awal pembahasan]

4.] Orang yang mendapat mukjizat Nabi ﷺ 

Nyata, seoranng infanteri tersebut adalah Ukasyah bin Mihshan. Dengan semangat dan ketegaran yang telah membaja. Diterimanya dahan pohon pemberian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penuh yakin dan harap. Maju, menyerang adalah keharusan. Tidak ada istilah melarikan diri bagi seorang Ukasyah bin Mihshan, meskipun hanya setangkai dahan pemberian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berada dalam genggamnya.

Seketika, dahan pohon dalam genggamnya berubah menjadi sebilah pedang yang kuat nan tajam. Luar biasa, hanya keajaiban dari Allah yang bisa menjadikannya nyata. Apakah engkau masih menyebutnya sebagai mimpi? bangunlah kawan, ini nyata. Demikian kesudahan yang baik dan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala bagi orang-orang yakin dan bersabar. Jangan lupakan kisah ini, sekelumit kisah yang dialami oleh salah seorang sahabat Nabi, Abu Mihshan Ukasyah bin Mihshan bin Hurtsan Al Asady saudara Ummu Qais bintu Mihshan.

5.] Orang yang Terkenal dan Ahli Berkuda

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Di antara kami ada seorang ksatria penunggang kuda terbaik dari bangsa arab”. Para sahabat menyela, siapakah dia wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Ukasyah bin Mihshan”. Dhirar bin Al Azwar berkata, “Dia adalah salah seorang diantara golongan kami wahai Rasulullah”. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menimpali, “Dia bukan dari golongan kalian, tapi dari golongan kami”. (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah 3/290)

7.] Beliau adalah seorang Panglima al-Ghamr\

8.] Ketampanan dan Keberanian serta memiliki Tekad

9.] Cerdasnya ‘Ukkasyah dan telitinya serta kejelian. Terlihat dari menyegerakan ‘Ukkasyah dalam menggapai masuk syurga tanpa hisab.

10.] Keutamaan Syaja’a (Keberanian)

PELAJARAN

1.] Bagaimana kita dapat menjadi orang yang dapat masuk syurga tanpa hisab ?

Dalam riwayat Bukhari disebutkan,

هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Mereka itu tidak melakukan thiyaroh (beranggapan sial), tidak meminta untuk diruqyah, dan tidak menggunakan kay (pengobatan dengan besi panas), dan hanya kepada Rabb merekalah, mereka bertawakkal.” (HR. Bukhari no. 5752)

  • Tidak Menggunakan Kay

Salah satu pengobatan yang disebutkan dalam hadits adalah pengobatan kay, yaitu dengan cara menempelkan besi panas pada daerah yang sakit atau terluka. Pengertian kay adalah

الكَيُّ: معروف إِحراقُ الجلد بحديدة ونحوها

“Kay adalah adalah menempelkan (membakar) dengan besi panas (pada daerah yang sakit atau terluka) atau sejenisnya.”

[At-Thibbus Sya’biy, sumber:http://www.4muhammed.org/kai.html%5D

Hadist Pertama

Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata,

أن النبيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ بعث إلى أُبَيّ بن كعب طبيبًا، فقطع منه عِرْقًا، ثم كواه عليه

Bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim seorang tabib kepada Ubay bin Ka’ab. Kemudian tabib tersebut membedah uratnya dan menyundutnya dengan al-kay (besi panas).” [HR. Muslim No 4088]

Ulama sekaligus pakar pengobatan Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan beberapa hadits terkait dengan pengobatan kay. Beliau berkata,

فقد تضمنت أحاديث الكي أربعة أنواع أحدها : فعله والثاني : عدم محبته له والثالث الثناء على من تركه والرابع النهي عنه ولا تعارض بينها بحمد الله تعالى فإن فعله يدل على جوازه وعدم محبته له لا يدل على المنع منه . وأما الثناء على تاركه فيدل على أن تركه أولى وأفضل . وأما النهي عنه فعلى سبيل الاختيار والكراهة أو عن النوع الذي لا يحتاج إليه بل يفعل خوفا من حدوث الداء

Hadist-hadist tentang Kay mengandung empat hal:

[1] yang pertama bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menggunakan Kay,

[2] yang kedua: beliau tidak menyukainya,

[3] yang ketiga: memuji orang yang bisa meninggalkannya,

[4] keempat: larangan beliau terhadap penggunaan Kay.

  • Tidak Berthathoyur (Menganggap Sial sesuatu)

Tathayyur atau thiyarah yaitu merasa bernasib sial karena sesuatu. Diambil dari kalimat: زَجَرَ الطَّيْرَ (menerbangkan burung).

Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H) rahimahullah berkata: “Dahulu, mereka suka menerbangkan atau melepas burung, jika burung itu terbang ke kanan, maka mereka menamakannya dengan ‘saa-ih’, bila burung itu terbang ke kiri, mereka namakan dengan ‘baarih’. Kalau terbangnya ke depan disebut ‘na-thih’, dan manakala ke belakang, maka mereka menyebutnya ‘qa-id’. Sebagian kaum bangsa Arab menganggap sial dengan ‘baarih’ (burungnya terbang ke kiri) dan menganggap mujur dengan ‘saa-ih’ (burungnya terbang ke kanan) dan ada lagi yang berpendapat lain.”

Lihat Miftaah Daaris Sa’aadah (III/268-269) ta’liq dan takhrij Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi, cet. I-Daar Ibnu ‘Affan, th. 1416 H.

Thiyarah termasuk syirik yang menafikan kesempurnaan tauhid, karena ia berasal dari apa yang disampaikan syaithan berupa godaan dan bisikannya.

اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلاَّ، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.

“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.” [HR. Bukhori]

Sehingga, siapapun yang menganggap sesuatu dalam hal nasib maka itulah thothayur bahkan diantara masyarakat kita ada yang menjadikan gelang dan sesuatu yang semisalnya.

  • Tidak Meminta di Ruqyah

1.] Keutamaan lebih baik bagi orang yang butuh ruqyah tapi ia tidak ingin meminta di ruqyah.

2.] Bacaan yang ditiupkan bagai Mantra – Maka hal ini bukan ruqyah syar’iyah. Terkadang dengan tulisan arab yang diharuskan disimpan disuatu tempat. maka ini tidak ada contohnya dari Nabi ﷺ 

3.] Ruqyah Syar’i Boleh yaitu yang sesuai dengan apa yang beliau sabdakan.

4.] Riwayat Hadist tentang Anjuran Ruqyah –  Lihat Disini

Jika, Disimpulkan maka hal ini menunjukan bahwa ruqyah ini tidak termasuk dalam ruang lingkup ruqyah yang dimaksud dalam hadist Masuk Syurga tanpa Hisab. Yang dimaksud adalah Ruqyah yang tidak ada contohnya serta yang mengada ngada. adapun sisi pendalilanya. banyak sekali hadist hadist shohih beredar mengenai perintah Ruqyah. Wa Allahu A’lam Bish Showwab.

Penulis 

Yoga Pratama

Disusun Sabtu, 12 Agustus 2017

Depok

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑